
Bobotoh 16 Tahun Dibacok Sepulang dari Pakansari
12 menit yang lalu
Kolesterol LDL dapat memicu plak dan penyumbatan pembuluh darah, tetapi bukan satu-satunya faktor risiko stroke.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat meningkatkan risiko stroke karena mendorong penumpukan plak dan penyempitan pembuluh darah. Kolesterol tinggi sering tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang mungkin baru mengetahuinya melalui pemeriksaan darah.
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. WHO mencatat sekitar 11,9 juta kasus stroke baru di seluruh dunia pada 2021. Dalam lembar fakta yang diperbarui pada Desember 2025, WHO memasukkan LDL tinggi sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
Kolesterol dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel dan menghasilkan hormon. Namun, LDL dapat membawa kolesterol ke dinding arteri; penumpukan plak dari waktu ke waktu dapat menyempitkan pembuluh darah dan menghambat aliran darah.
Jika plak berada pada pembuluh yang memasok darah ke otak, risiko stroke iskemik dapat meningkat. Plak yang pecah juga dapat memicu gumpalan yang menghambat aliran darah serta suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak.
Kolesterol tinggi tidak selalu menyebabkan stroke dan bukan satu-satunya faktor risiko. Tekanan darah tinggi, diabetes, merokok, kurang aktivitas fisik, serta riwayat penyakit kardiovaskular juga dapat berpengaruh; kombinasi beberapa faktor dapat meningkatkan risiko.
Pemeriksaan profil lipid dapat mencakup LDL, HDL, dan trigliserida. HDL membantu membawa kelebihan kolesterol kembali ke hati, tetapi kadar HDL yang tinggi tidak otomatis menghapus risiko akibat LDL tinggi atau faktor lainnya. Pemeriksaan darah dapat mengetahui kadar kolesterol; waktu pemeriksaan dapat disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, riwayat keluarga, dan faktor risiko.
Menurut laporan yang sama, pengendalian kolesterol dapat mencakup memperbanyak konsumsi sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein yang lebih sehat, termasuk ikan. Makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans sebaiknya dibatasi, begitu pula asupan garam dan gula tambahan. Aktivitas fisik merupakan langkah tersendiri: WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
Langkah lain meliputi menghindari rokok dan paparan asapnya, memeriksa kadar kolesterol secara berkala, serta menggunakan obat jika diperlukan berdasarkan penilaian tenaga medis. Frekuensi pemeriksaan juga dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan rekomendasi tenaga medis. Gejala stroke dapat berupa wajah menurun pada satu sisi, kelemahan atau mati rasa pada lengan, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, atau sakit kepala hebat yang tidak biasa; kondisi tersebut memerlukan pertolongan medis segera.