
Saham Volvo Cars Anjlok 24 Persen
13 menit yang lalu
Galur virus pasien di Abuja disebut identik dengan kasus perdana di Kenya, kata Menteri Kesehatan Nigeria.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Nigeria mengonfirmasi temuan kasus Ebola pertamanya. Hasil uji genomik menunjukkan galur virus pada pasien itu identik dengan kasus perdana di Kenya pada awal Oktober.
Menteri Kesehatan Nigeria Muhammad Ali Pate membenarkan bahwa analisis genomik menunjukkan adanya keterkaitan galur virus di kedua negara. Seperti diberitakan AFP pada Sabtu (24/10/2026), Pate menyebut kasus itu tampaknya sangat berkaitan dengan kasus indeks yang teridentifikasi di Kenya.
Temuan kasus pertama tersebut diumumkan ke publik pada Selasa (20/10/2026). Pasien adalah istri salah satu staf Kedutaan Besar Swiss di ibu kota Abuja yang baru kembali dari perjalanan ke Uganda pada 3 Oktober.
Kementerian Luar Negeri Swiss pada Jumat (23/10/2026) menyatakan bahwa perempuan itu tidak pernah berada di Kongo, negara yang menjadi pusat wabah. Menurut AFP, klarifikasi dari pihak Swiss tersebut sekaligus membantah laporan awal yang sempat dirilis pemerintah Uganda.
Otoritas kesehatan di Afrika kini berupaya melacak sumber awal infeksi pasien tersebut. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika sempat menduga pasien itu tanpa sengaja bersinggungan dengan pasien pertama di Kenya saat berada di bandara, karena keduanya terbang dari Uganda pada hari yang sama.
Pate menyatakan tidak ada bukti perjalanan kasus indeks di Kenya yang menghubungkannya dengan Nigeria, tetapi virus pada kedua kasus tampak saling berkaitan. Melalui unggahan di platform X, ia juga kembali menegaskan bahwa kasus di Nigeria sangat mirip dengan kasus di Kenya.
Dengan temuan ini, Nigeria menjadi negara Afrika keempat yang terdampak wabah Ebola spesies Bundibugyo, setelah Kongo, Uganda, dan Kenya.
Wabah demam berdarah virus tersebut bermula di kawasan timur laut Kongo pada Mei lalu, lalu menyebar ke Uganda. Uganda sempat mencatat 20 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian sebelum wabah di negara itu dinyatakan berakhir pada Agustus.
Menurut laporan yang sama, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 20 Oktober mencatat total lebih dari 9.700 kasus terkonfirmasi dalam wabah ini, dengan 4.690 kematian.