
Pangdam Udayana Kunjungi Siswa Sekolah Rakyat Karangasem
11 menit yang lalu
Pakar menyarankan pola makan seimbang sesuai kemampuan ekonomi dan perhatian pada perubahan perilaku makan.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, pakar gizi dan kesehatan jiwa mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah tekanan ekonomi, termasuk saat menyesuaikan belanja bahan makanan.
Peringatan itu disampaikan dalam peluncuran kampanye “Hidup Lebih Ringan” dan diskusi media tentang hubungan obesitas dan kesehatan mental di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Dokter spesialis gizi klinik Rumah Sakit Siloam Simatupang, Christopher Andrian, mengatakan pola makan perlu diatur dari sisi jenis, porsi, dan jadwal konsumsi.
Christopher menyarankan komposisi karbohidrat, protein, lemak, dan serat yang proporsional dalam setiap kali makan. “Tentang pola makan, kita harus membuat komposisi antara karbohidrat, protein, lemak, dan serat dalam satu kali makan secara proporsional atau seimbang,” kata Christopher.
Ia memaparkan prinsip pembagian piring: seperempat untuk karbohidrat, seperempat untuk protein, dan setengahnya untuk sayuran serta buah. Bahan yang lebih terjangkau, seperti nasi, telur, tahu, tempe, dan sayuran lokal, dapat menjadi pilihan.
Contoh menu yang disampaikan Christopher antara lain nasi dengan telur rebus dan sayuran untuk sarapan, serta nasi dengan tempe atau tahu dan sayuran untuk makan siang. Untuk makan malam, ia menyebut ubi rebus dengan telur dan sayuran; jenis serta porsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dan kondisi tiap orang.
Dokter spesialis kesehatan jiwa Eka Hospital BSD, Putri Nugraheni, mengingatkan bahwa kebiasaan makan dalam jumlah besar tidak serta-merta termasuk gangguan makan berlebihan. Menurut Putri, gangguan mental ditandai gangguan fungsi sehari-hari dan penderitaan bagi orang yang mengalaminya atau orang di sekitarnya.
Putri menjelaskan gangguan makan berlebihan perlu dibedakan dari kebiasaan memiliki nafsu makan besar karena berkaitan dengan kondisi psikologis dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan perilaku makan yang menimbulkan penderitaan atau mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian profesional.