
ATR/BPN Perkuat Manajemen Talenta ASN
17 menit yang lalu
PBB meminta informasi tentang kondisi personel yang ditahan dan penyelidikan atas kematian seorang stafnya.
Terbit · 1 min read

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak kelompok Houthi membebaskan seluruh personel PBB yang ditahan dan memberikan informasi mengenai keberadaan serta kondisi mereka. Menurut laporan ANTARA, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menyampaikan desakan itu pada Kamis (5/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam taklimat pers rutin mengenai penahanan personel di Yaman. Dujarric meminta informasi terverifikasi tentang lokasi penahanan dan kesehatan mereka.
Dujarric juga meminta agar para personel dapat berkomunikasi secara rutin dengan keluarga dan memperoleh perawatan medis yang diperlukan, termasuk perawatan khusus. Ia mengatakan PBB membutuhkan akses kepada mereka untuk menilai kondisi medis.
Menurut laporan yang sama, Dujarric menyebut kematian staf PBB Mohammad al-Shami dalam penahanan Houthi menimbulkan kekhawatiran serius tentang kemungkinan perlakuan buruk. Jenazah al-Shami diserahkan pekan lalu, sementara keluarganya mengatakan bahwa al-Shami telah meninggal sekitar sebulan sebelum mereka menerima kabar tentang kematiannya.
Dujarric menyerukan penyelidikan yang cepat, independen, tidak memihak, dan transparan untuk menetapkan tanggal, penyebab, serta keadaan kematian al-Shami. Penyelidikan itu, menurutnya, perlu memeriksa kondisi penahanan, kecukupan dan ketepatan waktu perawatan medis, serta keterlambatan pemberitahuan kepada keluarga dan PBB.
Dujarric mengatakan al-Shami merupakan staf PBB kedua yang meninggal saat ditahan Houthi. Al-Shami dilaporkan ditahan dalam penyerbuan pada Juni 2024 yang menangkap 13 staf PBB; Dujarric menyatakan otoritas Houthi bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan personel yang ditahan.
Dujarric juga meminta pembebasan segera dan tanpa syarat bagi personel kemanusiaan, misi diplomatik, dan masyarakat sipil yang ditahan. Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyebut hampir 135.000 orang mengungsi di Provinsi Taiz akibat kekerasan yang melanda sejumlah provinsi di Yaman.