
Marc Marquez Puas Finis Kedua di Sprint Sepang
7 menit yang lalu
Studi menilai kesehatan setelah karhutla untuk memperkuat dasar ilmiah perlindungan kesehatan berkelanjutan.
Terbit · 2 min read

Universitas Indonesia (UI) dan Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja (ILUNI MKK) merencanakan studi tentang dampak kesehatan pascakebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada pekerja serta masyarakat. Menurut laporan ANTARA, Dekan Fakultas Kedokteran UI Anna Rozaliyani menyampaikan rencana itu di Jakarta pada Sabtu (31/10/2026). Studi tersebut direncanakan untuk memperkuat dasar ilmiah bagi perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.
Studi tersebut direncanakan menilai kondisi kesehatan dalam rentang satu hingga tiga bulan setelah kejadian. Fokusnya meliputi gejala sisa pada saluran pernapasan dan keluhan kesehatan lain yang relevan dengan paparan.
Anna mengatakan kesehatan manusia perlu menjadi bagian dari perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla. Ia menilai penanganan membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar pengetahuan ilmiah dapat mendukung langkah perlindungan.
Penelitian akan dikoordinasikan melalui Klaster Occupational & Environmental Health, IMERI FKUI, dan Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI. Hasilnya diharapkan mendukung edukasi, pemeriksaan awal, dan pemantauan kesehatan sesuai kebutuhan kelompok terdampak.
Dalam laporan yang sama, anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa dampak paparan asap karhutla dapat melampaui gangguan pernapasan akut. Ia menyebut paparan kronik pada anak berisiko mengganggu pertumbuhan paru dan berkaitan dengan risiko asma persisten serta penyakit paru obstruktif kronis.
dr. Nastiti juga memaparkan bukti yang, menurutnya, menunjukkan hubungan paparan asap dengan dampak kesehatan jangka panjang. Ia menyebut studi kebakaran di Indonesia pada 1997 menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian, serta efek paparan sejak dalam kandungan yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian.
Untuk mengantisipasi dampak pada anak, dr. Nastiti menganjurkan pemantauan tumbuh kembang dan pernapasan, termasuk pemeriksaan fungsi paru bila memungkinkan. Ia juga menyarankan imunisasi lengkap, pemenuhan nutrisi, rumah bebas asap rokok, pemantauan udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, dan pencegahan karhutla.
Rentang satu hingga tiga bulan yang direncanakan dalam studi UI dan ILUNI MKK merupakan fokus penelitian, bukan gambaran seluruh dampak kesehatan jangka panjang.