
KKP Dorong Riset Warisan Maritim Bawah Laut
11 menit yang lalu
Dedy Permadi mengusulkan AI untuk layanan puskesmas dan menekankan perlunya transfer pengetahuan serta kejelasan pelaksanaan kerja sama.
Terbit · 2 min read

Akademisi Universitas Gadjah Mada Dedy Permadi mengusulkan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung layanan puskesmas, terutama di wilayah terpencil, sebagai tindak lanjut kerja sama Indonesia dan Korea Selatan. Menurut laporan ANTARA, usulan itu disampaikan dalam lokakarya di Jakarta.
Lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia dan Korea Foundation berlangsung Jumat (30/10/2026). Dedy mengatakan kerja sama dapat membuka peluang pengembangan layanan kesehatan di wilayah pedesaan Indonesia dan pengujian teknologi Korea Selatan di wilayah kepulauan.
“Indonesia dapat memperoleh peningkatan layanan kesehatan di puskesmas wilayah pedesaan, sementara Korea dapat menguji model teknologinya di wilayah kepulauan,” kata Dedy. Ia menyebut Korea Selatan telah memiliki prototipe AI untuk layanan kesehatan dasar yang, menurutnya, diuji di salah satu wilayah pedesaan di negara tersebut.
Dedy menilai teknologi itu berpotensi dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Ia juga menekankan perlunya transfer pengetahuan agar kerja sama tidak hanya menjadikan Indonesia pengguna teknologi, tetapi turut meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan, insinyur, dan peneliti.
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan menandatangani kerja sama AI untuk kesehatan dasar dan pembangunan manusia di Seoul pada 1 April 2026. Kesepakatan itu mencakup layanan kesehatan publik, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental berbasis masyarakat, serta ketahanan kesehatan melalui data dan sistem digital.
Pelaksanaan kerja sama, menurut laporan yang sama, akan didorong melalui pertukaran informasi dan teknologi, pelatihan dan peningkatan kapasitas, proyek bersama, serta keterlibatan ahli kedua negara. Dedy mengatakan cakupan dan prioritasnya sudah cukup jelas, tetapi pendanaan, tata kelola data, hak kekayaan intelektual, target, dan jadwal masih perlu diperkuat.
Nota kesepahaman tersebut belum mencantumkan alokasi anggaran khusus. Dedy mengatakan kedua negara telah membentuk kelompok kerja dan melakukan komunikasi tingkat menteri, sementara kesepakatan mengenai anggaran dan pengaturan pelaksanaan masih perlu diselesaikan.
Dalam lokakarya yang sama, Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology Howon Kim menekankan perlunya proyek dengan tujuan dan ukuran keberhasilan yang jelas. Ia mengatakan penerapan AI di rumah sakit juga membutuhkan data untuk melatih sistem, anggaran operasional, dan prosedur untuk menangani kesalahan penggunaan AI. Kim menyebut Indonesia memiliki keunggulan sumber daya manusia muda, pemahaman infrastruktur lokal, dan pasar besar, sedangkan Korea Selatan unggul dalam pengembangan AI, integrasi sistem, keamanan siber, dan sistem industri.