
Aqil Siap Menghadapi PSMS di Laga Pembuka
1 jam yang lalu
Chamad menilai kritik tidak otomatis menurunkan elektabilitas Gibran, yang tercatat meningkat dalam sejumlah survei.
Terbit · 1 min read

Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia Chamad Hojin menilai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki daya tawar politik kuat di tengah kritik dan polemik yang mengiringinya. Menurut laporan CNNIndonesia.com, Chamad mengaitkan hal itu dengan posisi Gibran dalam peta kekuasaan nasional dan prospek politiknya.
Chamad menyampaikan penilaian tersebut pada Senin (2/11/2026). Ia mengatakan jabatan wakil presiden dan tingkat pengenalan publik yang luas menjadi modal politik Gibran dalam bursa kontestasi berikutnya.
Menurut Chamad, kritik terhadap Gibran cukup dominan dalam percakapan di media sosial. Namun, ia menilai ramainya kritik di ruang digital belum tentu mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat.
Ia menjelaskan, karakter media sosial yang mengutamakan interaksi dapat membuat konten kontroversial dan perdebatan politik lebih menarik perhatian. Akibatnya, suara kelompok yang vokal bisa tampak lebih dominan daripada suara masyarakat secara keseluruhan.
Chamad juga menyoroti hasil survei yang, menurut laporan yang sama, menunjukkan elektabilitas Gibran meningkat. Survei SMRC pada 1-10 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gibran sebesar 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka terhadap 24 nama calon presiden, menempatkannya di posisi keempat.
Angka tersebut lebih tinggi daripada hasil survei November 2025 sebesar 5,1 persen, Februari-Maret 2026 sebesar 6,8 persen, dan Juli 2026 sebesar 7,7 persen. Chamad menilai kritik terhadap tokoh politik tidak selalu berujung pada penurunan elektabilitas; dalam kondisi tertentu, perhatian yang muncul bisa memperluas pengenalan publik.
Meski demikian, Chamad mengingatkan bahwa popularitas dan meningkatnya perhatian publik tidak otomatis sejalan dengan dukungan politik. Ia juga menyebut posisi strategis Gibran perlu diimbangi pembuktian kinerja, kapasitas kepemimpinan, dan akuntabilitas sebagai wakil presiden.
Dengan sejumlah modal politik tersebut, Gibran diperkirakan tetap masuk dalam kalkulasi elite politik nasional. Tantangannya adalah membuktikan kapasitas kepemimpinan dan menjaga kepercayaan publik di tengah kritik.