
Indonesia Desak Rusia Hentikan Rekrutmen WNI
16 menit yang lalu
Pemerintah Delhi memberlakukan sejumlah pembatasan dan pemantauan untuk mengendalikan polusi udara.
Terbit · 2 min read

Pemerintah New Delhi mulai menerapkan sejumlah kebijakan untuk mengendalikan polusi udara pada Minggu (1/11/2026). Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, langkah itu mencakup kenaikan tarif parkir hingga dua kali lipat dan pengaturan bekerja dari rumah bagi pegawai pemerintah serta swasta.
Kebijakan tersebut berlaku di ibu kota India mulai 1 November 2026. Kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi dilarang memasuki wilayah ibu kota, sementara aktivitas pembongkaran yang menghasilkan debu dan pekerjaan konstruksi luar ruangan dihentikan.
Kantor Kepala Menteri Delhi, Rekha Gupta, menyatakan Rencana Aksi Musim Dingin Delhi mulai diterapkan pada tanggal tersebut. Rencana itu mencakup pengawasan polusi yang lebih ketat, penegakan aturan yang diperkuat, dan pemantauan sepanjang waktu.
Kantor Gupta juga meminta warga mematuhi pedoman tersebut dan berperan dalam upaya mewujudkan udara yang lebih bersih. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan kantor kepala menteri yang dikutip dalam laporan tersebut.
Dalam sebulan sebelumnya, pemerintah Delhi telah melarang pembakaran sampah serta membatasi penggunaan batu bara dan kayu bakar oleh pedagang makanan. Upaya serupa pada tahun-tahun sebelumnya belum mengatasi kabut asap yang rutin menyelimuti kota dari November hingga Januari.
Laporan CNBC Indonesia menyebut suhu yang lebih rendah pada periode itu membuat polutan terperangkap di dekat permukaan tanah. Sumber pencemaran di Delhi antara lain emisi kendaraan, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, kegiatan industri, debu konstruksi, dan pembakaran sisa tanaman di negara bagian sekitar.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup India yang dimuat dalam laporan itu, kendaraan menyumbang sekitar 23 persen polusi udara Delhi selama musim dingin. Pembakaran biomassa berkontribusi sekitar 20 persen, sedangkan sektor industri, termasuk pembangkit listrik tenaga batu bara, sekitar 9 persen.
Konsentrasi PM2.5 di Delhi kerap melampaui 300 mikrogram per meter kubik, sekitar 20 kali ambang harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia. Pada Minggu (1/11/2026), konsentrasinya tercatat 201 mikrogram per meter kubik; laporan tersebut menyebut hujan berkala dalam beberapa hari terakhir mungkin sedikit membantu menurunkan angka itu. Studi yang diterbitkan The Lancet Planetary Health pada 2024 memperkirakan sekitar 3,8 juta kematian di India pada 2009–2019 berkaitan dengan pencemaran udara.