
BMKG Prakirakan Hujan di 19 Wilayah
12 menit yang lalu
Joint List memilih mendukung upaya Eisenkot dari luar koalisi, sementara Iran memperingatkan potensi perang dengan AS.
Terbit · 1 min read

Laporan CNNIndonesia.com merangkum perkembangan politik Israel, peringatan Iran mengenai kemungkinan perang baru dengan Amerika Serikat, serta pernyataan Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir tentang perdamaian dan ekonomi dunia selama akhir pekan.
Joint List, partai Arab di Israel, menyatakan tidak akan bergabung dengan koalisi yang diupayakan Gadi Eisenkot. Partai itu menyatakan akan mendukung blok tersebut dari luar untuk mencegah Benjamin Netanyahu tetap menjadi perdana menteri.
Ketua Joint List Ahmad Tibi mengatakan partainya tidak ingin mempersulit pembentukan pemerintahan potensial Eisenkot di tengah penolakan partai sayap kanan terhadap partai Arab. Dalam wawancara Meet the Press pada Sabtu (31/10/2026), ia mengatakan, “Kami tak akan menjadi bagian dari pemerintahan. Proses koalisi (kami ingin) lebih mudah bukan sulit,” menurut laporan Jerusalem Post yang dikutip CNNIndonesia.com.
Iran memperingatkan bahwa perang baru dengan Amerika Serikat dapat berlangsung lebih lama daripada konflik sebelumnya. Peringatan itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada sejumlah target yang harus ditangani.
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia menyampaikan peringatan tersebut melalui televisi pemerintah Iran pada Minggu (1/11/2026), menurut laporan AFP yang dikutip CNNIndonesia.com. “Perang yang mungkin terjadi di masa depan bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Presiden Amerika Serikat tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu ataupun syarat berakhirnya perang tersebut,” katanya.
Di Atlanta, Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir menekankan hubungan perdamaian dan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri G20. Ia menyampaikan pernyataan itu melalui akun Instagram pada Sabtu (31/10/2026).
“Dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri (FMM) G20 di Atlanta, saya menegaskan bahwa tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa perdamaian dan stabilitas,” ujar Arrmanatha. Ia juga menyoroti bahwa konflik di Selat Hormuz, Laut Hitam, dan Laut Merah mengganggu perdagangan global serta mengancam ketahanan energi dan pangan dunia.