
Maisy Kay Siapkan Single Baru tentang Cinta
13 menit yang lalu
Kajian Arunala menyoroti kepadatan panti publik dan beban pengasuhan keluarga serta tenaga perawatan.
Terbit · 1 min read

Kajian Arunala Institute and Foundation Indonesia mencatat keterisian panti sosial lansia milik pemerintah mencapai 144 persen dari kapasitas. Menurut laporan Manado Post, kajian itu juga menyoroti keterbatasan akses perawatan jangka panjang.
Laporan tersebut menyebut Kota Bogor dan Kota Tangerang Selatan belum memiliki panti lansia milik pemerintah daerah.
Di rumah, 73 persen pengasuh keluarga yang diteliti berusia 32–55 tahun dan mayoritas perempuan. Seluruh pengasuh keluarga dalam kajian itu belum pernah mengikuti pelatihan perawatan formal.
Beban juga ditemukan di fasilitas profesional. Rasio pendampingan di beberapa fasilitas dilaporkan mencapai satu pengasuh untuk 84 lansia, sementara jam kerja berkisar 10–24 jam sehari.
“Krisis perawatan lansia bukan sekadar masalah domestik keluarga, melainkan tantangan struktural perlindungan sosial nasional,” ujar Dyah Larasati, Direktur Eksekutif Arunala Institute and Foundation Indonesia, menurut laporan yang sama.
Dalam Dialog Kebijakan Perawatan Lansia pada Selasa (27/10/2026), Arunala mendorong integrasi perawatan jangka panjang ke sistem perlindungan sosial nasional. Koordinasi lintas kementerian diperlukan untuk menghubungkan layanan kesehatan, bantuan sosial, serta pembiayaan perawatan yang terjangkau.
Arunala mengusulkan penambahan kapasitas panti daerah, subsidi atau kupon untuk mengakses fasilitas swasta, serta pelatihan bersertifikat bagi pengasuh keluarga dan profesional. Layanan penitipan lansia siang hari berbasis komunitas juga disebut sebagai alternatif.
Laporan yang sama menyebut panti swasta bertarif Rp1,5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan rata-rata terisi 70 persen. Penduduk lansia Indonesia diproyeksikan mencapai 20,3 persen atau sekitar 68 juta jiwa pada 2045.