
KNTI Dorong Pendampingan KUR bagi Nelayan Kecil
11 menit yang lalu
Bursa Mineral ditujukan meningkatkan transparansi harga; Indonesia dan Korea Selatan membahas kerja sama mineral dan baterai.
Terbit · 2 min read

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) disiapkan untuk memperkuat peran Indonesia dalam perdagangan produk mineral strategis. Menurut laporan ANTARA, Koordinator Kerja Sama dan Investasi Minerba Ditjen Minerba ESDM Yan Abrar menyampaikan hal itu dalam Indonesia-Korea Energy Forum di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (28/10/2026).
Yan mengatakan Indonesia sedang menyiapkan landasan bagi pembentukan BMKS nasional. Ia menyebut bursa itu bertujuan meningkatkan transparansi harga dan memperkuat peran Indonesia dalam perdagangan mineral strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan investor Korea Selatan. Yan menyatakan investor memerlukan kejelasan dan kepastian regulasi, sementara arah kebijakan hilirisasi Indonesia telah berlangsung konsisten selama lebih dari 15 tahun.
Menurut laporan yang sama, Yan menyebut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara mengamanatkan pengolahan di dalam negeri. Aturan tersebut, kata dia, berkembang untuk memperkuat tata kelola sektor pertambangan.
Yan juga menguraikan sejumlah kebijakan pengelolaan sektor, termasuk persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya tahunan, penetapan harga berdasarkan tolok ukur, serta pengendalian produksi melalui pemangkasan kuota. Ia menyebut langkah-langkah itu sebagai upaya menjaga keberlanjutan sumber daya dan meningkatkan disiplin pasar.
Pemerintah, menurut Yan, turut meningkatkan pengawasan digital melalui Minerba One yang terhubung dengan Sistem Informasi Mineral dan Batubara Antar Kementerian/Lembaga (SIMBARA). Ia mengatakan, “Pesan utama bagi investor adalah Indonesia terus memperbaiki iklim investasi sembari mempertahankan pengelolaan sumber daya nasional yang bertanggung jawab,” ujar Yan.
Dalam forum tersebut, Eul Roh, Manajer Tim Kerja Sama Internasional Departemen Mineral Kritis KOMIR (Korea Mine Rehabilitation and Mineral Resources Corporation), menyatakan Indonesia dan Korea Selatan memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, pengolahan hasil tambang, dan tujuan membangun ekosistem kendaraan listrik; Korea Selatan memiliki pasar, teknologi baterai, pengalaman daur ulang dan reklamasi tambang, serta sistem yang menghubungkan informasi, teknologi, dan keuangan.
Eul Roh mengatakan, “Kemitraan Korea Selatan dan Indonesia bergerak dari batu bara ke baterai.” Ia berharap kedua negara meningkatkan standar kerja sama, mencakup penggunaan energi bersih, pengelolaan air dan limbah, perizinan yang dapat diprediksi, kepercayaan masyarakat, serta akses ke pasar baterai global. Ia menambahkan, “Tidak ada satu perusahaan pun yang dapat menyelesaikan ini sendirian. Kedua negara harus menyelesaikannya bersama-sama,” ujar Eul Roh.