
ITDP Indonesia Hadirkan Platform E-Bus Hub
14 menit yang lalu
Konferensi AAAH menyepakati kerangka kerja dan tiga fokus untuk memperkuat tenaga kesehatan di kawasan Asia Pasifik.
Terbit · 1 min read

Kementerian Kesehatan menjadikan Konferensi Asia-Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) sebagai wadah kolaborasi regional untuk mengatasi ketimpangan distribusi tenaga kesehatan di Asia Pasifik. Menurut laporan ANTARA, Ketua AAAH periode 2024–2026 Anna Kurniati menyampaikan hal itu dalam konferensi ke-14 di Badung, Bali, Rabu (4/11/2026).
Anna, yang juga menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, mengatakan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan terjadi di hampir seluruh negara kawasan. Tenaga kesehatan, menurutnya, cenderung memilih bekerja di wilayah perkotaan.
Ia menyebut regulasi yang ditegakkan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi persoalan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia juga membantu pemetaan regional untuk mengetahui konsentrasi tenaga kesehatan di setiap wilayah.
Menurut laporan yang sama, Anna menilai perencanaan tenaga kesehatan penting untuk mengukur tingkat ketimpangan di lapangan. Pemerintah juga mendorong insentif berdasarkan kinerja atau biaya hidup serta jaminan pengembangan kompetensi bagi tenaga medis yang bertugas di kawasan terpencil.
Anna mengatakan pemerintah pusat maupun daerah perlu memastikan lingkungan kerja tenaga kesehatan aman dan nyaman, serta memperhatikan kesejahteraan mereka. Rumusan konferensi, lanjutnya, disusun berdasarkan pengalaman negara anggota agar dapat diterapkan oleh negara lain yang membutuhkan.
Konferensi yang dihadiri perwakilan 22 negara itu menghasilkan kesepakatan Kemenkes dan AAAH mengenai kerangka kerja bersama bernama Competence and Commitment Build a Resilient Health Workforce. Kerangka tersebut menempatkan kompetensi dan komitmen sebagai fondasi tenaga kesehatan yang tangguh.
Konferensi juga menyepakati tiga fokus: tata kelola dan kepemimpinan, pendidikan transformatif dan kesejahteraan, serta transformasi digital. Tata kelola diarahkan pada penyediaan data untuk perencanaan tenaga medis, sedangkan pendidikan ditujukan untuk menghasilkan tenaga kesehatan adaptif yang kesejahteraannya terjamin.
Adapun transformasi digital ditujukan untuk memperkuat pengambilan keputusan berbasis data dan memperluas pemanfaatan teknologi hingga kawasan terpencil. Forum tersebut juga membahas tata kelola mobilitas tenaga kesehatan antarnegara agar berlangsung secara bertanggung jawab, melindungi pekerja medis, dan mendukung pengembangan karier tanpa memperburuk kekurangan tenaga di negara asal.