
Hashim Nilai Rembuk Pemuda Penting bagi Pembangunan
11 menit yang lalu
Kabar kematian Kim tidak didukung bukti terverifikasi, sementara media pemerintah Korut merilis foto yang disebut memperlihatkan dirinya.
Terbit · 2 min read

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali menjadi sasaran rumor kematian setelah beredar klaim bahwa ia mengalami pendarahan otak, koma, lalu meninggal. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Newsweek, klaim itu berasal dari Wanjun Xie, yang mengaku sebagai ketua Partai Demokrat China.
Kabar tersebut dilaporkan mencuat pada akhir pekan dan menyebar melalui media sosial. Xie mengklaim Kim dibawa ke Peking Union Medical College Hospital di Beijing, tetapi laporan itu tidak menyertakan bukti terverifikasi yang mendukung klaim kematian maupun upaya pemerintah Korea Utara menutupinya.
Di tengah rumor itu, media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), dan surat kabar Rodong Sinmun menerbitkan foto yang disebut memperlihatkan Kim menghadiri pameran pakaian dan alas kaki bersama putrinya, Kim Ju Ae, serta sejumlah pejabat di Pyongyang. Kemunculan tersebut belum diverifikasi secara independen.
Peneliti senior Program Korea di Stimson Center, Rachel Minyoung Lee, mengatakan kabar mengenai kondisi Kim sejauh ini tidak memiliki dasar kuat. Ia juga menyebut tidak ada hal tidak biasa dalam pemberitaan media pemerintah atau aktivitas kepemimpinan Korea Utara yang menunjukkan Kim tidak mampu menjalankan tugasnya.
“Sejauh ini, rumor tersebut hanyalah desas-desus,” kata Lee. Ia mengingatkan agar ketidakhadiran seorang pemimpin dari hadapan publik tidak langsung dianggap sebagai bukti penyakit serius; minimnya keterbukaan Korea Utara mengenai kesehatan pemimpinnya turut membuat rumor mudah berkembang.
Seorang pejabat diplomatik dan keamanan Korea Selatan yang tidak disebutkan namanya juga mengatakan kepada kantor berita Yonhap bahwa pihaknya tidak memperoleh informasi yang mendukung kabar kematian Kim. Rumor serupa pernah beredar pada 2020, ketika Kim tidak terlihat di depan publik selama beberapa minggu; hal itu memicu spekulasi bahwa ia sakit parah atau meninggal setelah menjalani operasi kardiovaskular. Kim kemudian kembali muncul dalam acara publik.
Kesehatan Kim menjadi perhatian internasional karena ia memimpin negara bersenjata nuklir yang memiliki posisi strategis di Asia Timur. Ia berkuasa setelah menggantikan ayahnya, Kim Jong Il, yang meninggal pada 2011, sementara mekanisme suksesi jika terjadi pergantian kepemimpinan mendadak belum diketahui.
Kim Ju Ae semakin sering terlihat dalam acara politik dan militer penting sejak akhir 2022. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan pernah menilai Kim mungkin sedang mempersiapkan putrinya untuk peran kepemimpinan, tetapi ia belum ditetapkan secara resmi sebagai penerus.
Laporan yang sama menyebut kemunculan Kim terjadi di tengah ketegangan dengan Korea Selatan. Kim Yo Jong memperingatkan situasi di perbatasan selatan “sangat tidak stabil” dan menuduh militer Korea Selatan bertindak gegabah setelah ledakan ranjau melukai dua tentara Korea Selatan; Pyongyang membantah bertanggung jawab, sedangkan Seoul menyatakan temuannya mengarah pada ranjau yang dipasang Korea Utara. Kim Yo Jong juga menyebut Pyongyang mempertimbangkan mengaktifkan kembali pengeras suara propaganda di perbatasan.