
11 Pengasuh Little Aresha Divonis Penjara
11 menit yang lalu
Megawati berpesan agar GPM mempelajari pemikiran Bung Karno dan berziarah ke tempat Marhaen.
Terbit · 1 min read

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan tiga pesan kepada Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) melalui Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto di Kongres ke-10 GPM, menurut laporan ANTARA.
Kongres tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026). Hasto menyampaikan pesan itu dalam keterangan tertulis di Jakarta, menurut laporan yang sama.
Pesan pertama berisi salam hangat Megawati kepada keluarga besar GPM. Pesan kedua meminta keluarga besar GPM terus mempelajari pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme.
“Kemudian yang ketiga pesan bagi kepengurusan yang nanti terbentuk dari hasil kongres ini untuk jangan lupa berziarah ke tempat Bapak Marhaen,” kata Hasto, menurut laporan yang sama.
Kongres mengangkat tema tentang masa depan marhaenisme, pengabdian sepanjang hayat, dan kesetiaan pada jalan ideologi. Acara itu diikuti peserta dari dewan pimpinan daerah serta cabang GPM dari sejumlah provinsi.
Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis menyebut kongres menjadi titik konsolidasi organisasi yang berdiri sejak 1947. Ia mengatakan GPM memiliki 22 dewan pimpinan daerah dan 78 dewan pimpinan cabang, serta mereka berupaya agar jumlah dewan pimpinan daerah mencapai 35.
Emir juga menyoroti pengenalan marhaenisme kepada generasi muda. Menurut dia, istilah tersebut sempat tidak dikenal di lingkungan pendidikan; ia menyebut pengalaman mengajak siswa SMA berbincang tentang marhaenisme.
Ketua panitia Kongres X GPM Boy Ericko Pandu mengatakan kongres digelar bertepatan dengan Sumpah Pemuda karena tempat dan hari itu dinilai sebagai simbol persatuan. Ia mengatakan kongres harus melahirkan gagasan untuk menjawab tantangan zaman.
Pemerintah hadir melalui Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kementerian Dalam Negeri Wahyu Chandra Kusuma, yang mewakili Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Wahyu menyinggung penyebutan rakyat kecil dalam diskursus marhaenisme dan mengatakan rakyat yang disebut wong cilik adalah pemilik negeri yang sesungguhnya.