
Pengadilan Paris Izinkan Demo 31 Oktober
12 menit yang lalu
Joint List dan Ra’am meraih total 20 kursi dan dapat memengaruhi pembentukan pemerintahan Israel.
Terbit · 1 min read

Partai-partai Arab Israel berpotensi memengaruhi pembentukan pemerintahan setelah pemilihan umum pada 27 Oktober 2026. Menurut laporan CNNIndonesia.com, partai-partai tersebut dapat membantu blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot menghadapi pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Pemilihan umum itu berlangsung di Israel. Tidak ada partai yang meraih mayoritas di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 anggota.
Joint List memperoleh 12 kursi, sedangkan Ra’am meraih delapan kursi. Laporan CNNIndonesia.com menyebut perolehan total 20 kursi itu sebagai jumlah terbanyak yang pernah diraih partai-partai Arab Israel.
Dalam sistem parlementer Israel, pemerintahan membutuhkan dukungan sedikitnya 61 anggota Knesset. Karena itu, perolehan kursi partai-partai Arab dapat menjadi faktor dalam pembentukan koalisi.
Joint List merupakan gabungan Hadash, Balad, dan Ta’al. Kelompok itu dibentuk pada 2015 dan kini dipimpin Ahmad Tibi.
Joint List bubar pada Januari 2019. Kelompok itu dibentuk kembali untuk mengikuti pemilihan umum pada September 2019 dan Maret 2020.
Dalam pernyataan resminya, Joint List menyatakan akan mengerahkan kekuatan untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Kelompok itu juga menyatakan siap bekerja sama secara politik untuk membentuk pemerintahan alternatif.
Ra’am dipimpin Mansour Abbas dan memiliki basis pemilih Muslim Arab. Menurut laporan CNNIndonesia.com yang mengutip Britannica, partai itu berfokus pada persoalan sosial-ekonomi warga Arab Israel.
Laporan yang sama menyebut Abbas mengumumkan pada 2025 bahwa partainya akan memutus hubungan formal dengan organisasi-organisasi Islam. Pada 2026, Ra’am menempatkan Yoav Segalovitz sebagai kandidat kedua dalam daftar pemilunya.