
Baleno Tabrak Ambulans dan Tiga Motor di Lamongan
12 menit yang lalu
Pengerahan aparat disiapkan untuk mengantisipasi demonstrasi dan potensi kerusuhan pada akhir pekan.
Terbit · 1 min read

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan sekitar 70.000 aparat kepolisian akan dikerahkan ke seluruh negeri untuk mengamankan situasi di tengah potensi demonstrasi akhir pekan. Menurut laporan CNN Indonesia, Nuñez menyampaikan hal itu kepada wartawan pada Kamis (29/10/2026).
Pengerahan tersebut disiapkan menjelang aksi protes yang direncanakan berlangsung pada Sabtu (31/10/2026). Gerakan Rompi Kuning dan serikat mahasiswa Prancis menyerukan aksi yang diperkirakan berskala besar.
Nuñez memperingatkan risiko kerusuhan pada tanggal tersebut. “Tanggal 31 Oktober menghadirkan risiko kerusuhan publik yang sangat tinggi,” kata Nuñez, seperti dikutip Le Monde dalam laporan CNN Indonesia.
Nuñez juga mengatakan pihak berwenang mendeteksi seruan di media sosial untuk berkumpul pada Sabtu malam dalam perayaan Halloween. Seruan itu mengajak peserta melakukan “revolusi”.
Menurut laporan yang sama, Nuñez menyebut seruan tersebut disebarkan kelompok sayap kiri radikal dan sejumlah aktivis Rompi Kuning yang disebutnya telah mengalami radikalisasi. Ia mengatakan, “Pertemuan-pertemuan ini akan dilarang.”
Rencana aksi itu muncul dua minggu setelah demonstrasi ricuh pada 17 Oktober. Dalam peristiwa tersebut, toko-toko dijarah serta sejumlah bangunan dibakar dan dirusak, menurut laporan CNN Indonesia.
Laporan tersebut menyebut demonstrasi besar di Prancis telah berlangsung sejak akhir September. Aksi awalnya dipelopori siswa yang mengeluhkan kondisi sistem pendidikan, terutama di sekolah-sekolah wilayah pinggiran.
Aksi kemudian meluas ke berbagai kalangan. Laporan CNN Indonesia menyebut tingginya biaya hidup dan ketidaksetaraan sebagai latar kemarahan yang lebih luas.