
Rodri Diperkirakan Absen Sebulan karena Cedera
18 menit yang lalu
Rommy menilai kedaulatan digital dan antariksa perlu diperkuat, sementara Andi Widjajanto mengingatkan mahasiswa tentang tantangan teknologi dan demokrasi.
Terbit · 2 min read

Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno Rommy Soekarno menilai persaingan geopolitik abad ke-21 telah bergeser ke ruang digital dan antariksa. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan pandangan itu dalam Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Gen-Z bertajuk “Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia”.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno, Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu (4/11/2026). Rommy mengatakan penguasaan data, kecerdasan buatan, semikonduktor, dan infrastruktur komputasi kini menjadi sumber kekuatan negara.
Rommy memperingatkan Indonesia agar tidak kehilangan kendali atas aset teknologi dan informasi domestik di tengah dominasi platform global. Ia mendorong penguatan keamanan siber, kemandirian penguasaan mahadata, serta riset terpadu di bidang kecerdasan buatan.
Dalam pembahasan tentang antariksa, Rommy menyoroti bertambahnya satelit orbit rendah yang mengitari wilayah Nusantara. Menurutnya, satelit dapat memberi manfaat bagi telekomunikasi dan pertahanan, tetapi konstelasi satelit asing memerlukan regulasi perlindungan untuk menjaga kerahasiaan komunikasi dan keamanan nasional.
Rommy juga mengajak generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi. Ia mendorong mahasiswa menguasai kecerdasan buatan, ilmu politik, hukum internasional, teknologi satelit, dan ekonomi digital, serta mengaitkan teknologi modern dengan ajaran Trisakti Bung Karno.
Pada kegiatan yang sama, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI periode 2022–2023 Andi Widjajanto membahas komputasi kuantum dan ketidakpastian yang ia sebut sebagai teori “angsa hitam”. Menurut Andi, kecerdasan buatan menggerakkan persaingan ekonomi dan geopolitik global.
Andi menyebut era komputasi kuantum atau Q-Day diperkirakan terjadi pada 2031 hingga 2037 dan dapat mengancam kode keamanan konvensional. Ia mengatakan perangkat keras dan teknologi enkripsi saat ini tidak lagi relevan dan wajib beralih ke teknologi kuantum optik, serta mencontohkan investasi Singapura sebesar 50 juta dolar AS per tahun untuk laboratorium kuantum di National University of Singapore.
Andi mengaitkan tantangan teknologi dengan situasi dunia yang kerap diguncang krisis tak terduga saat Generasi Z lahir, termasuk serangan WTC 2001, krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19 2020, dan ancaman perang energi. Ia juga berharap Generasi Z berperan dalam konsolidasi demokrasi; kegiatan itu turut dihadiri Hasto Kristiyanto, Bonnie Triyana, Margaretha Hanita, dan sejumlah mahasiswa UBK.