
Rommy Soekarno Soroti Geopolitik Digital
12 menit yang lalu
Pemerintah meluncurkan program pesantren bebas tuberkulosis dan mengajak pemerintah daerah mendukung pelaksanaannya.
Terbit · 1 min read

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus menyatakan Indonesia menempati urutan kedua dengan kasus tuberkulosis terbanyak di dunia setelah India. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu dalam peluncuran Gerakan Nasional Pesantren Bebas Tuberkulosis di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Peluncuran gerakan sekaligus pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis Nasional 2026 berlangsung pada Rabu (4/11/2026) di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Desa Tumpatan, Kabupaten Deli Serdang. Acara dihadiri Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, dan Wakil Gubernur Sumatera Utara.
Wamenkes menyebut Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi khusus untuk memperkuat penanganan tuberkulosis secara intensif. Melalui program pesantren bebas tuberkulosis, pemerintah ingin mencegah penularan di lingkungan pesantren dan mendorong santri menjadi duta kesehatan.
Dalam kesempatan itu, Benjamin menyebut lebih dari 114 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis. Ia juga menyatakan pemerintah mengalokasikan sekitar Rp120 triliun untuk merehabilitasi 441 rumah sakit daerah dan memperbarui 1.988 puskesmas di seluruh Indonesia mulai tahun depan.
Menurut laporan yang sama, Akhmad Wiyagus menyatakan Kementerian Dalam Negeri siap bersinergi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan. Ia juga mengajak pemerintah daerah berperan aktif menyukseskan program tersebut.
Wiyagus menyebut koordinasi pemerintah pusat dan daerah diharapkan mendukung upaya pencegahan serta penanggulangan tuberkulosis di pesantren agar berlangsung berkelanjutan. Ia menyebut edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan berkala, dan penanganan yang tepat sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Ustaz H. Basron Sudarmanto, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan menjadikan pesantrennya sebagai pusat peluncuran program nasional. Ia menyebut kondisi fisik yang prima dibutuhkan santri dan pengajar untuk menjalankan kegiatan belajar dan mengajar.