
Kodam XIII/Merdeka dan Pemkab Boalemo Perkuat Sinergi
11 menit yang lalu
Demonstran meminta pemerintahan gabungan, sementara hasil sementara pemilu belum menunjukkan mayoritas parlemen.
Terbit · 1 min read

Ratusan warga Israel berunjuk rasa pada Rabu (28/10/2026) untuk meminta pembentukan pemerintahan gabungan partai Yahudi dan Arab, menurut laporan CNN Indonesia.
Demonstrasi berlangsung di Paris Square, Yerusalem; Unesco Square, Haifa; serta Taman Mesila, Tel Aviv. Laporan CNN Indonesia mengutip media Israel Haaretz mengenai tiga lokasi tersebut.
Para demonstran membawa spanduk yang menyerukan pemerintahan Yahudi-Arab dan kebebasan bagi semua. Aksi itu berlangsung setelah hasil pemilihan umum sementara belum menunjukkan blok yang meraih mayoritas 61 dari 120 kursi parlemen.
Menurut laporan CNN Indonesia, penghitungan Komite Pusat Pemilihan Israel hingga Kamis (29/10/2026) sore WIB telah mencakup 90,4 persen suara. Blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperoleh 52 kursi, sedangkan partai yang dipimpin mantan panglima militer Gadi Eisenkot meraih 48 kursi.
Partai-partai Arab Israel memperoleh 20 kursi sementara, terdiri atas 12 kursi untuk Joint List dan delapan kursi untuk Ra'am. Angka tersebut belum menempatkan blok mana pun di atas ambang mayoritas parlemen.
Pemimpin Joint List Ahmad Tibi mengatakan bloknya menawarkan dukungan kepada “blok perubahan” untuk mengganti pemerintahan Netanyahu. Dalam pernyataan tertulis yang diterima Anadolu Agency, ia menyebut tingginya partisipasi pemilih Arab sebagai pencapaian bersejarah bagi Joint List.
Tibi mengatakan aliansi itu menanggapi seruan masyarakat untuk bersatu dan menyebut partai-partai Arab sebagai kekuatan penentu perubahan. Ia juga menyatakan langkah awal yang diusulkan adalah mencopot Ketua Knesset Amir Ohana.
“Blok perubahan” mencakup Yashar, Yesh Atid, Partai Demokrat, Beyachad, dan Yisrael Beiteinu, menurut laporan CNN Indonesia. Aliansi oposisi tersebut berupaya menggantikan pemerintahan Netanyahu.