
Mandi Setelah Makan, Apa Kata Penjelasan Medis?
24 menit yang lalu
Artikel ANTARA merangkum kaitan hubungan kasih sayang dengan stres, rasa sakit, dan daya tahan tubuh.
Terbit · 1 min read

ANTARA menguraikan sejumlah manfaat hubungan cinta bagi kesehatan fisik dan mental, termasuk kaitannya dengan kecemasan, stres, dan rasa sakit. Artikel tersebut terbit pada Sabtu (7/11/2026) dan merujuk antara lain pada WebMD serta Healthline.
Menurut laporan ANTARA, penelitian yang dirujuk WebMD membandingkan pasangan yang telah lama menjalin hubungan dengan pasangan yang baru menjalin hubungan. Keduanya menunjukkan aktivitas otak yang berkaitan dengan cinta mendalam, sementara pasangan yang lebih lama bersama dilaporkan memiliki tingkat kecemasan lebih rendah.
Artikel itu juga menyebut hubungan yang berlangsung lama dapat berkaitan dengan tingkat stres lebih rendah. ANTARA mengaitkan perasaan bahagia dengan oksitosin dan dopamin serta menyebut pasangan dapat menjadi tempat berbagi keluh kesah.
Merujuk Healthline, ANTARA menghubungkan rasa antusias saat bertemu orang yang dicintai dengan dopamin. Artikel tersebut menyatakan bahwa perasaan itu dapat memunculkan kebahagiaan.
ANTARA menyebut cinta dapat mendorong seseorang berkorban bagi pasangan, misalnya meluangkan waktu atau berpindah kota. Kedekatan juga disebut dapat membantu seseorang memahami perubahan emosi pasangannya.
Laporan itu menyebut penelitian terhadap seorang perempuan yang telah menjalani hubungan bahagia selama enam bulan. Saat perempuan tersebut merasakan sakit sambil melihat foto pasangan, orang asing, atau kursi, rasa sakit dilaporkan lebih rendah ketika ia melihat foto pasangannya.
ANTARA juga merujuk penelitian tentang kontak fisik, seperti berpelukan, yang disebut dapat mengurangi potensi orang yang sedang stres untuk jatuh sakit. Jika sakit, gejalanya dilaporkan tidak akan parah.
Selain itu, artikel tersebut mengaitkan pikiran yang terus tertuju pada pasangan dengan dopamin dan bagian otak korteks singulat anterior. ANTARA menyebut kondisi itu dapat mendekati obsesi, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang penelitian yang mendasarinya.