
Truk Trailer Terguling di Jalan Solo-Boyolali
21 menit yang lalu
Kandidat vaksin berbasis liposom mendapat persetujuan uji klinis fase pertama dari BPOM.
Terbit · 2 min read

PT Bio Farma (Persero) memaparkan riset kandidat vaksin tuberkulosis (TB) berbasis Lipovaxin dalam pertemuan ke-40 Kemitraan Stop TB di Denpasar, Bali. Menurut laporan ANTARA, pemaparan berlangsung pada Jumat (6/11/2026).
Kandidat berbasis liposom itu dikembangkan Bio Farma bersama Lipotek dari Australia. Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, menyebutnya sebagai bagian dari pengembangan vaksin TB generasi baru.
“Saat ini kami sedang mengembangkan vaksin TB generasi baru,” ujar Dicky dalam sesi tentang kesiapan vaksin TB di Denpasar.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui pelaksanaan uji klinis fase pertama kandidat tersebut. Uji itu dirancang untuk menilai keamanan dan respons imun pada peserta dewasa yang sehat.
Dicky mengatakan Bio Farma menyiapkan aspek teknis dan manufaktur selama pengembangan. Ia berharap kandidat dapat mencapai tahap lanjutan pada 2028 atau 2029, termasuk kemungkinan peningkatan skala produksi; kemajuan bergantung pada hasil uji klinis dan pemenuhan persyaratan regulasi.
Dalam laporan yang sama, Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya membahas kandidat vaksin TB M72/AS01E, yang awalnya dikembangkan GlaxoSmithKline. Kandidat itu telah menjalani uji klinis fase pertama dan kedua, serta masih berada dalam uji fase ketiga yang disponsori Gates Medical Research Institute.
Shadiq mengatakan Bio Farma menjajaki kerja sama dengan Serum Institute of India untuk mengkaji kemungkinan alih teknologi formulasi di Indonesia. “Bagi Bio Farma, kemitraan internasional perlu memperkuat kemampuan industri di Indonesia agar kita lebih siap mendukung pasokan vaksin TB bagi masyarakat. Untuk kandidat M72, kami sedang menjajaki kerja sama dengan Serum Institute of India untuk melihat kemungkinan alih teknologi formulasi di dalam negeri,” ujarnya.
Gates Medical Research Institute mengumumkan kesepakatan dengan Serum Institute of India pada Juli 2026 untuk menyiapkan produksi antigen M72. Pengumuman itu juga menyebut rencana melibatkan produsen lokal di Indonesia dan Afrika Selatan pada bagian tertentu rantai pasok.
Shadiq menyebut keterjangkauan harga perlu diperhitungkan sejak perencanaan akses vaksin. Jika kelak mendapat izin edar, penyediaan dapat melalui program pemerintah atau jalur komersial; harga komersial mempertimbangkan biaya riset, investasi fasilitas, dan operasional. Keputusan izin edar tetap bergantung pada penilaian BPOM atas data uji klinis dan persyaratan regulasi.