
Kemenhaj Pastikan Situasi Umrah di Arab Saudi Aman
12 menit yang lalu
BMKG menyebut potensi awan hujan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah tinggi dalam lima hari ke depan seiring OMC.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyebut potensi pertumbuhan awan hujan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah cukup tinggi dalam lima hari ke depan. Pertumbuhan awan itu dikaitkan dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan BMKG.
Faisal menyampaikan hal tersebut di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10/2026). Untuk Kalimantan Tengah, potensi tinggi berlaku sejak hari itu, sedangkan untuk Sumatra Selatan berlaku mulai keesokan harinya, masing-masing selama lima hari.
Menurut laporan yang sama, pemerintah melakukan OMC secara masif di wilayah yang terdeteksi memiliki cukup banyak titik panas. Faisal mengatakan operasi itu dilaksanakan atas arahan Presiden.
OMC tersebut mengombinasikan penggunaan es kering dengan garam (NaCl). Faisal menyebut sejumlah pesawat dikerahkan. "Kami menggunakan juga pesawat Hercules, CN-295, hingga pesawat lain yang dimiliki oleh TNI," ujar dia.
Menurut Faisal, es kering dipakai untuk mengurangi kepekatan asap dengan membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di bawah ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki. Setelah asap naik, matahari dapat memicu penguapan dan terbentuknya awan hujan, lalu BMKG menyemai awan menggunakan NaCl.
Sebelumnya, BMKG menyebut hujan mulai turun di wilayah Sumatra dan Kalimantan setelah OMC dengan metode tersebut diterapkan. Hujan berintensitas tinggi dilaporkan terjadi di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Faisal bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi ketiga wilayah itu untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Ia menyebut kebakaran meningkat di sejumlah lokasi dua sampai empat minggu sebelum datangnya musim hujan.
Faisal juga mengatakan sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember, dengan puncak pada Desember, Januari, dan Februari. Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino.
Menurut dia, hujan bersifat normal dengan jumlah yang sama dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, tetapi durasinya lebih pendek, sehingga bencana hidrometeorologi basah perlu diwaspadai pada akhir tahun hingga awal tahun depan. "Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dengan durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang," ucapnya.