
Menlu Moldova Sebut Integrasi dengan Rumania Berlanjut
13 menit yang lalu
Fermentasi kacang koro pedang putih menghasilkan bahan yang berpotensi diolah menjadi beragam produk pangan nabati.
Terbit · 1 min read

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Haryo Bimo Setiarto, mengembangkan daging analog berbahan kacang koro pedang putih melalui fermentasi dan pengolahan tekstur. Menurut laporan CNBC Indonesia, Haryo merupakan peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN.
Haryo menyebut pengembangan itu dilatarbelakangi keterbatasan pemanfaatan sumber protein serta kacang koro yang belum digunakan secara optimal. Dalam keterangan tertulis pada Minggu (8/11/2026), ia menjelaskan bahwa keterbatasan protein hewani dan pemanfaatan kacang koro yang belum optimal mendorong pengembangan tersebut.
Prosesnya dimulai dengan memfermentasi kacang koro pedang putih menggunakan kapang Rhizopus oligosporus hingga menjadi tempe koro. Tempe kemudian dihancurkan dan dicampur dengan gluten, tepung mocaf, serta bumbu.
Campuran itu diproses menggunakan teknologi ekstruder untuk mengubah teksturnya agar menyerupai daging berbasis protein hewani.
Menurut Haryo, bahan itu berpotensi diolah menjadi isian burger, nugget, bakso, dan sosis. Pengembangan berikutnya diarahkan pada produk siap santap, termasuk kornet berbasis nabati.
Tim peneliti juga menjajaki kerja sama dengan merek dan industri pangan. Tahap penelitian lanjutan mencakup penyempurnaan tekstur dan karakteristik sensorik, penyempurnaan formulasi untuk menghasilkan rasa yang dapat diterima konsumen, evaluasi nilai gizi dan nutrisi tempe koro, serta peningkatan kapasitas produksi.
Haryo mengungkapkan sejumlah industri telah menjalin kemitraan dalam pengembangan inovasi tersebut.
Kolaborasi diharapkan mendukung proses dari penyediaan bahan baku hingga pengembangan produk siap konsumsi. Evaluasi gizi dan peningkatan skala produksi menjadi bagian dari tahapan pengembangan.