
PLN IP Uji Campuran Hidrogen dan Amonia
15 menit yang lalu
Kopi dapat merangsang gerakan usus, sementara serat, cairan, dan kebiasaan ke toilet juga berperan.
Terbit · 1 min read

Minuman hangat seperti kopi dapat membantu merangsang buang air besar (BAB), menurut laporan ANTARA yang mengutip EatingWell. Dokter spesialis gastroenterologi Supriya Rao menjelaskan bahwa kopi dapat merangsang pergerakan usus besar melalui kontraksi otot.
Laporan tersebut dimuat ANTARA pada Kamis (29/10/2026). Pagi hari disebut sebagai waktu yang tepat untuk minum kopi, sedangkan mengonsumsinya bersama makanan dapat memberi manfaat lebih besar.
Respons itu dikenal sebagai refleks gastrokolik, yakni dorongan untuk BAB yang biasanya muncul setelah makan atau pada pagi hari setelah bangun tidur. Minum kopi dapat membantu memicu refleks tersebut.
Makanan juga dapat meregangkan lambung dan mendorong pergerakan sisa pencernaan melalui saluran cerna. Tinja bergerak di usus besar melalui gelombang kontraksi otot, sedangkan kontraksi yang tidak teratur dapat berkontribusi pada sembelit atau kram perut.
Dokter gastroenterologi Edmundo Rodriguez-Frias menyebut penelitian menemukan kopi dapat meningkatkan kontraksi usus besar dalam hitungan menit. Menurut laporan tersebut, peningkatan kontraksi usus besar itu 60 persen lebih kuat dibandingkan dengan air putih, tetapi hasil serupa tidak selalu ditemukan pada kopi tanpa kafein.
Kopi juga dapat meningkatkan kadar gastrin dan kolesistokinin, dua hormon yang terlibat dalam aktivitas pencernaan, menurut Rodriguez-Frias. Gastrin berperan dalam pergerakan lambung dan memberi sinyal kepada tubuh untuk memproduksi asam klorida yang membantu mencerna protein. Kolesistokinin memicu pankreas melepaskan enzim untuk membantu mencerna karbohidrat, lemak, dan protein.
Selain kopi, laporan tersebut menyarankan peningkatan asupan serat secara bertahap untuk menambah volume dan melunakkan tinja. Penambahan serat secara mendadak dapat memicu gas berlebih, kembung, atau sembelit.
Laporan tersebut juga menyarankan penambahan konsumsi cairan saat asupan serat meningkat karena serat membutuhkan cairan untuk bekerja dengan baik. Rodriguez-Frias mengatakan kebiasaan berulang menahan dorongan BAB dapat berkontribusi terhadap sembelit, sementara tinja bisa menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.