
BMKG Prakirakan Hujan Lebat di Sejumlah Kota
13 menit yang lalu
Gugatan terhadap OpenAI mempersoalkan respons ChatGPT kepada pengguna dengan gangguan bipolar.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, Michael Lines menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman. Lines mengklaim penggunaan ChatGPT memperburuk kondisi gangguan bipolar yang dialaminya.
Dalam gugatan itu, Lines mengatakan episode mania yang dialaminya memburuk setelah berbincang dengan GPT-4o pada tahun sebelumnya. Ia juga mengklaim mengalami delusi selama berminggu-minggu dan mencoba bunuh diri.
Menurut laporan yang sama, Lines telah memberi tahu ChatGPT bahwa ia mengonsumsi obat untuk kondisi mental. Ia menilai chatbot tersebut tidak menyarankannya mencari bantuan langsung dari orang lain.
Gugatan itu menyebut ChatGPT menguatkan keyakinan Lines bahwa dirinya adalah Yesus dan berpura-pura menjadi makhluk ilahi. Lines juga menuduh respons chatbot mendukung keinginannya untuk bunuh diri.
Lines menilai OpenAI tidak cukup melindungi pengguna dengan gangguan mental. Gugatan tersebut meminta ganti rugi dan mendesak perusahaan menghentikan percakapan tentang tindakan melukai diri serta pemasaran platform tanpa perlindungan yang memadai.
Menurut laporan yang sama, GPT-4o pernah dikritik karena respons yang terlalu ramah dan menjilat. OpenAI disebut sempat membatalkan pembaruan dan berupaya mengurangi pola respons tersebut.
Menanggapi hal itu, OpenAI mengatakan ChatGPT dilatih untuk mengenali tanda gangguan mental atau emosional, meredakan percakapan, dan mengarahkan pengguna mencari dukungan di dunia nyata. Perusahaan juga menyatakan terus memperkuat respons pada situasi sensitif dan bekerja sama dengan klinisi kesehatan mental.