
Diabetes Bisa Menyerang Usia Muda, Ini Faktor Risikonya
14 menit yang lalu
Studi pada 3.093 orang dewasa menemukan kaitan antara aktivitas fisik dan sejumlah hasil tes kognitif.
Terbit · 2 min read

Studi terhadap 3.093 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa kelompok dengan jumlah langkah harian lebih tinggi cenderung mencatat hasil lebih baik pada sejumlah tes kognitif. Menurut laporan CNNIndonesia, kaitan itu terlihat terutama pada tes perhatian, pengendalian distraksi, dan pilihan imbalan.
Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports pada Oktober 2026 itu menggunakan data peserta program All of Us milik National Institutes of Health, berusia 18 hingga 93 tahun dengan rata-rata usia sekitar 58 tahun. Para peneliti menganalisis catatan aktivitas, hasil tes kognitif, serta pengukuran tekanan darah.
Laporan CNNIndonesia menyebut para peneliti menggunakan rekaman perangkat Fitbit yang mencakup 2009 hingga 2023. Karena tidak semua peserta memiliki data sepanjang periode tersebut, pola aktivitas tiap orang diperkirakan berdasarkan catatan yang tersedia.
Peserta dikelompokkan berdasarkan rata-rata aktivitas harian, yakni 5.108, 8.875, dan 14.161 langkah. Mulai September 2023, mereka menjalani tes yang mengukur perhatian berkelanjutan, kemampuan mengabaikan gangguan, pilihan imbalan langsung atau tertunda, serta pengenalan emosi wajah.
Dua kelompok dengan jumlah langkah lebih tinggi memperoleh hasil lebih baik daripada kelompok paling tidak aktif pada tes perhatian, pengendalian distraksi, dan pemilihan imbalan. Setelah memperhitungkan usia, pendidikan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat lahir, skor perhatian kelompok aktivitas menengah diperkirakan 1,76 poin lebih tinggi daripada kelompok paling tidak aktif; skor kelompok paling aktif diperkirakan 2,17 poin lebih tinggi daripada kelompok paling tidak aktif.
Psikiater Olaoluwa Okusaga dari Baylor College of Medicine, salah satu peneliti studi, seperti dilansir ScienceAlert, menyatakan bahwa peserta yang lebih aktif cenderung menunjukkan hasil lebih baik pada beberapa ranah kognitif. Ia juga menegaskan studi tersebut bersifat observasional dan tidak dirancang untuk menentukan jumlah langkah harian yang optimal bagi kesehatan kognitif.
Para peneliti menemukan tekanan sistolik yang lebih tinggi berkaitan dengan hasil sedikit lebih buruk pada tes pemilihan imbalan. Analisis lanjutan menunjukkan tekanan sistolik yang lebih rendah secara statistik dapat menjelaskan sekitar 5 persen hubungan antara jumlah langkah dan skor tes itu, tetapi temuan tersebut tidak membuktikan bahwa penurunan tekanan darah memperbaiki kemampuan berpikir.
Karena tes kognitif hanya dilakukan sekali, penelitian itu tidak dapat memastikan perubahan kemampuan peserta dari waktu ke waktu. Okusaga menyatakan temuan tersebut menunjukkan hubungan antara aktivitas fisik jangka panjang dan performa kognitif di kemudian hari, tetapi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat; penelitian dan penilaian lanjutan masih diperlukan.