
KPK Dalami Kontrak Bantalan Rel di Sumatera Selatan
14 menit yang lalu
Peneliti memperkirakan hingga 2,8 juta belut berkumpul di satu gunung bawah laut, diduga untuk memijah.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, jutaan belut laut dalam berkumpul di sekitar gunung bawah laut bernama Patience Seamount di selatan Tasmania, lepas pantai tenggara Australia. Temuan itu tercantum dalam studi terbaru yang dipimpin ilmuwan kelautan Ben Scoulding dari lembaga riset Australia CSIRO.
Pada puncaknya, jumlah belut basketwork (Diastobranchus capensis) di lokasi itu diperkirakan mencapai 2,8 juta ekor. Total biomassanya menembus 3.500 ton metrik, setara 3.860 ton AS.
Scoulding, seperti dikutip ScienceAlert, menyebut perkiraan hingga 2,8 juta belut dan lebih dari 3.500 ton biomassa yang terkonsentrasi di sekitar satu gunung bawah laut menunjukkan betapa uniknya kawasan tersebut.
Para peneliti meyakini perkumpulan massal itu berkaitan dengan satu keperluan penting, yakni pemijahan atau reproduksi massal.
Menurut laporan yang sama, wilayah tersebut dikelilingi sekitar 120 gunung bawah laut di kawasan Taman Laut Huon dan Tasman Fracture. Meski demikian, belut hanya memilih Patience Seamount, padahal gunung di sekitarnya memiliki kedalaman dan karakteristik lingkungan yang relatif serupa.
Luas Patience Seamount hanya sekitar 2 kilometer persegi. Lokasi itu secara konsisten menampung lonjakan populasi belut sejak Maret hingga puncaknya pada Mei.
Untuk menghitung populasi, tim peneliti menggabungkan pengukuran sonar akustik dengan rekaman kamera bawah air. Hasilnya, kawanan belut membentang sepanjang 3 kilometer, selebar 2 kilometer, dan menjulang hingga 150 meter di atas dasar laut.
Lokasi itu tidak hanya dihuni belut basketwork, tetapi juga ikan orange roughy (Hoplostethus atlanticus). Ikan tersebut lebih menyukai lereng atas yang curam, sedangkan belut basketwork memilih area dasar laut yang lebih dalam dan datar.
Kawasan Patience Seamount sebelumnya rusak akibat aktivitas pukat dasar. Sejak ditetapkan sebagai taman laut yang dilindungi pada 2007, kawasan itu menunjukkan tanda pemulihan, ditandai pulihnya populasi ikan dan tumbuh kembalinya terumbu karang. Studi lanjutan masih dilakukan untuk memetakan waktu pasti pemijahan belut, dan para ilmuwan berharap perlindungan kawasan laut dalam ini menjaga keberlanjutan spesies tersebut.