
ITDP Indonesia Hadirkan Platform E-Bus Hub
14 menit yang lalu
AICIS+ 2026 diarahkan untuk memperkuat riset lintas disiplin dan mendorong publikasi karya peserta.
Terbit · 2 min read

Kementerian Agama ingin AICIS+ 2026 menjadi panggung bagi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) untuk menjawab persoalan masyarakat melalui sains, teknologi, dan riset lintas disiplin. Menurut laporan ANTARA, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan PTKIN sekarang bukan lagi monodisiplin, tetapi sudah multidisipliner dan interdisipliner.
Konferensi tersebut disiapkan berlangsung di Cirebon pada 17-20 November 2026 dan didorong menjangkau perguruan tinggi umum. Suyitno menyampaikan keterangannya di Jakarta.
Suyitno menyebut tiga prioritas penyelenggaraan AICIS+: memperkuat substansi penelitian, menampilkan inovasi yang bermanfaat, dan memastikan makalah peserta ditindaklanjuti menuju publikasi ilmiah. Penguatan pendekatan lintas disiplin, katanya, perlu dimulai sejak pemilihan dan pengelompokan makalah.
Ia mendorong kajian keislaman dipertemukan dengan bidang ilmu lain agar dapat membahas persoalan aktual. Sebagai contoh, persoalan sampah dapat diteliti melalui perspektif biologi, gender, dan bidang keilmuan lain, dengan menghubungkan aspek lingkungan, perilaku, serta kehidupan sosial.
Dalam pemilihan makalah, Suyitno meminta pengurangan kajian yang terlalu monodisiplin dan pengutamaan makalah yang mulai mengembangkan pendekatan interdisipliner serta sejalan dengan Asta Cita. Ia juga meminta pemilihan narasumber internasional mempertimbangkan keahlian dan kontribusi pemikiran agar mencerminkan lintas disiplin, bukan hanya kajian keislaman.
Arah lintas disiplin itu juga diterapkan pada ekspo hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi. Suyitno meminta produk riset yang bernilai akademik dan bermanfaat bagi masyarakat mendapat ruang utama dalam pameran.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Sahiron menekankan tindak lanjut konferensi melalui publikasi. Ia menyebut panitia telah berkoordinasi dengan sekitar 50 jurnal untuk mendukung publikasi karya ilmiah peserta, menurut laporan yang sama.
Sahiron mengatakan presentasi dapat memberi kesempatan kepada penulis untuk menerima masukan, memperbaiki makalah, dan berkomunikasi dengan editor jurnal. Ia menyebut editor dapat terhubung dengan penulis agar karya dipublikasikan pada semester ini atau semester depan.
Selain publikasi, Sahiron meminta penguatan diplomasi akademik melalui undangan kepada duta besar atau perwakilan negara mitra. Ia mendorong koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk membuka peluang perluasan jejaring pendidikan dan kerja sama antarnegara.