
Narendra Jatna Paparkan Risiko Mekanisme NCB
9 menit yang lalu
Pakar menyebut es dan turbulensi dapat mengganggu kendali pesawat, tetapi penyebab kecelakaan belum dipastikan.
Terbit · 1 min read

Pakar aviasi Joseph Post dan pilot komersial Justin Crabble menjelaskan risiko turbulensi dan pembentukan es pada pesawat setelah Learjet 60 jatuh di Florida, Amerika Serikat. Menurut laporan CNNIndonesia.com yang mengutip WFLA dan LADbible, penyebab kecelakaan itu belum diketahui.
Pesawat tersebut jatuh di kawasan permukiman Palm Beach County pada Minggu (1/11/2026), saat dalam perjalanan dari Austin, Texas, menuju Bahama. Wilayah itu dilanda hujan deras dan badai petir ketika kecelakaan terjadi.
Post, peneliti University of South Florida, mengatakan badai petir dapat menghadirkan turbulensi parah dan pembentukan lapisan es. Ia menyebut kedua kondisi itu sebagai bahaya bagi penerbangan, menurut laporan WFLA yang dikutip CNNIndonesia.com.
Menurut penjelasan Post dalam laporan yang sama, penumpukan es dapat mengganggu aliran udara di sayap, mengurangi daya angkat, dan berpotensi membuat pesawat kehilangan daya angkat. Turbulensi parah juga dapat memberi tekanan besar pada struktur pesawat.
Crabble, CEO Jettly, menjelaskan kepada LADbible bahwa tetesan air sangat dingin di awan dapat membeku ketika menyentuh pesawat. Es dapat mengubah bentuk sayap, mengurangi daya angkat, menambah hambatan udara, dan membuat pesawat lebih sulit dikendalikan.
Crabble mengatakan pembentukan es parah terjadi ketika es menumpuk begitu cepat sehingga sistem pencegah atau pencair es mungkin tidak mampu mengatasinya. Ia menilai es dapat memperburuk keadaan jika pesawat juga menghadapi turbulensi, tetapi tidak menyatakan hal itu sebagai penyebab kecelakaan Learjet.
Menurut laporan CNNIndonesia.com, penyelidik belum memastikan apakah kecelakaan disebabkan es, turbulensi, atau faktor lain. Crabble mengatakan penentuan penyebab memerlukan pemeriksaan kinerja pesawat, kondisi cuaca, dan data penerbangan; rekaman audio kokpit saja tidak cukup.
Laporan itu menyebut sembilan orang dipastikan tewas di dalam pesawat. Para pilot dilaporkan menyampaikan adanya es pada ketinggian 10.668 meter, sebelum pesawat turun dengan laju yang dilaporkan meningkat dari 3.048 menjadi 6.705 meter per menit.