
52 Ton Alpukat Dimusnahkan di Meksiko
10 menit yang lalu
Menag mendorong pencarian persamaan antarumat beragama untuk memperkuat kerukunan dan diplomasi religius.
Terbit · 1 min read

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak tokoh lintas agama memaknai ulang toleransi dengan menekankan pencarian persamaan antarumat. Menurut laporan ANTARA, ajakan itu disampaikan dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh agama di Indonesia.
Nasaruddin menyampaikan keterangannya di Jakarta pada Selasa (3/11/2026). Laporan tersebut tidak menyebutkan lokasi pertemuan ataupun waktu pelaksanaannya secara terperinci.
Ia menilai toleransi tidak cukup dipahami sebagai kompromi atas perbedaan. Nasaruddin mengatakan pemahaman toleransi kerap memberi kesan bahwa seseorang dipaksa mengakui sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Menurut laporan yang sama, Nasaruddin menyebut pemaknaan baru atas toleransi penting untuk menjaga stabilitas nasional dan memperkuat diplomasi religius Indonesia. Ia mendorong pengurangan ruang gesekan dengan memperluas perjumpaan dan mencari persamaan substansial antarajaran agama.
Nasaruddin juga menilai pengajaran agama yang terlalu menonjolkan perbedaan perlu diarahkan pada pemahaman yang lebih objektif tentang kesamaan nilai moral, etika, dan kisah spiritual. Ia mengatakan perbedaan yang selama ini dipersepsikan mungkin tidak selalu mencerminkan perbedaan mendasar.
Dalam keterangannya, Nasaruddin mengaitkan gagasan itu dengan ketidakpastian global. Ia menyebut sejumlah negara di Eropa dan Afrika menghadapi kemunduran ekonomi, inflasi tinggi, kelangkaan energi, serta krisis, sementara Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5,6 persen, inflasi terkendali, dan cadangan pangan yang mencukupi.
Nasaruddin menilai peran pemimpin agama dalam menenangkan umat turut membantu Indonesia bertahan di tengah tekanan global. Ia juga memandang persatuan antarumat sebagai modal diplomasi internasional, sementara jalur diplomasi formal melalui lembaga dunia seperti PBB, menurutnya, kerap menemui jalan buntu dalam meredam konflik.
Ia mengingatkan tantangan mendatang, termasuk kecerdasan buatan tingkat tinggi dan persoalan moral generasi muda. Kementerian Agama mendorong para cendekiawan lintas agama untuk berkonsolidasi dan merumuskan strategi kebangsaan, menurut laporan ANTARA. Naskah itu menyebut keterlibatan cendekiawan Muslim, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, dan Khonghucu.