
Indodax Perbaiki Temuan Keamanan Platform
13 menit yang lalu
Analisis menunjukkan potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang di Jawa dan Aceh.
Terbit · 2 min read

Akademisi dan peneliti meteorologi Deni Septiadi menyebut perkembangan awan konvektif di Jawa dan Aceh berpotensi memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang. Menurut laporan CNN Indonesia, analisis citra satelit dan dinamika atmosfer pada Jumat (30/10/2026) menunjukkan pertumbuhan awan konvektif di kedua wilayah.
Di Pulau Jawa, sejumlah klaster awan cumulonimbus terpantau tumbuh sejak siang hingga sore. Suhu puncak awan minimum tercatat sekitar minus 86,8 derajat Celsius, yang menurut laporan tersebut mengindikasikan pertumbuhan awan vertikal hingga lapisan atas troposfer.
Analisis yang sama menunjukkan zona konvergensi positif pada lapisan 925 hPa berdekatan dengan klaster awan dingin. Kondisi itu dapat memusatkan massa udara dan mendukung gerak vertikal jika kelembapan serta ketidakstabilan atmosfer memadai.
Di Aceh dan Sumatra bagian utara, suhu puncak awan minimum mencapai minus 84,3 derajat Celsius. Kelembapan relatif rata-rata pada lapisan 700 hPa tercatat 74,7 persen, sedangkan kecepatan angin rata-rata pada lapisan 925 hPa sekitar 3,15 meter per detik dan maksimumnya 9,85 meter per detik.
Deni mengatakan sejumlah sel konvektif di Jawa menunjukkan pertumbuhan dan kemungkinan interaksi antarsel. Jika proses itu berlangsung terus-menerus, awan berpotensi berkembang menjadi sistem konveksi terorganisasi berskala meso. Klasifikasi sebagai kompleks konvektif mesoskala masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Menurut Deni, awan cumulonimbus matang dapat membawa risiko hujan lebat, petir, dan angin kencang. Hujan intens dapat memicu genangan, banjir, dan longsor, sementara arus udara turun, hembusan angin turun yang kuat, serta batas pertemuan angin dapat menghasilkan hembusan angin yang merusak.
Masyarakat di kawasan rawan banjir, bantaran sungai, lereng perbukitan, dan wilayah terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan. Perkembangan konveksi yang cepat perlu diantisipasi karena dampaknya dapat muncul dalam waktu relatif singkat.
Menurut laporan yang sama, kondisi tersebut terjadi saat El Niño berada dalam kategori sangat kuat, dengan anomali suhu muka laut Niño-3.4 mingguan sekitar plus 2,88 derajat Celsius, dan indeks Dipol Samudra Hindia positif sekitar plus 0,69 derajat Celsius. Meski kedua fenomena itu cenderung mengurangi konveksi di sebagian Indonesia, pengaruhnya tidak menghilangkan peluang cuaca ekstrem lokal. Osilasi Madden-Julian pada 27 Oktober 2026 berada di fase 2 dengan amplitudo sekitar 1,40, sementara atmosfer bertransisi menuju monsun Asia dan angin timuran masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia.