
IRGC Bangun Fasilitas Produksi Rudal Bawah Tanah
9 menit yang lalu
Tanaman pendamping dapat mendukung musuh alami hama; penelitian di Gorontalo mencatat potensi manfaat bagi produksi dan pendapatan.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, penggunaan pestisida pertanian global mencapai 3,92 juta ton bahan aktif pada 2024. Salah satu pendekatan yang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pestisida adalah refugia, yakni tanaman pendamping yang menyediakan habitat bagi musuh alami hama.
Data Food and Agriculture Organization (FAO) yang dirilis pada Juli 2026 menunjukkan penggunaan pestisida itu meningkat 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan 18 persen dalam satu dekade. Menurut laporan yang sama, FAO memperingatkan dampak penggunaan pestisida terhadap kualitas tanah, air, dan keanekaragaman hayati.
Refugia ditanam di sekitar lahan pertanian untuk menyediakan habitat bagi predator dan parasitoid alami yang memangsa hama. Lingkungan pertanian dirancang agar musuh alami tersebut dapat bertahan di dekat tanaman budidaya.
Tanaman refugia dapat dipilih sesuai komoditas, hama, dan kondisi lahan. Materi menyebut tanaman berbunga dengan warna mencolok yang menyediakan nektar atau serbuk sari sebagai ciri yang umumnya digunakan.
Penelitian di Desa Molamahu, Gorontalo, menggunakan bunga matahari (Helianthus annuus), kenikir (Cosmos caudatus), dan Tagetes erecta pada pertanian jagung. Tanaman pendamping itu ditempatkan di sekitar atau di tepi lahan.
Nektar menyediakan sumber energi, sedangkan serbuk sari memberi nutrisi bagi serangga yang menjadi musuh alami hama. Dengan makanan dan tempat berlindung, predator dan parasitoid berpeluang bertahan di sekitar lahan dan memangsa telur, larva, maupun serangga hama.
Refugia dapat diintegrasikan dalam pertanian presisi dengan menyesuaikan penempatan dan pemilihan tanaman terhadap hama, komoditas, serta kondisi lahan. Pendekatan ini juga dapat mendukung konservasi keanekaragaman hayati dan ketahanan sistem produksi pangan.
Dalam penelitian di Desa Molamahu, Tagetes erecta ditanam mengelilingi jagung, sedangkan bunga matahari dan kenikir ditempatkan di tepi lahan serta sekitar saluran air. Pola penanaman tersebut menunjukkan perlunya menyesuaikan jenis tanaman, lokasi, jarak, dan waktu berbunga.
Penelitian itu mencatat produksi jagung dengan refugia sebesar 10,51 ton per hektare, dibandingkan 6,67 ton per hektare dengan metode konvensional. Pendapatan petani pengguna refugia tercatat sekitar Rp33,52 juta per hektare, sedangkan metode konvensional Rp21,17 juta; biaya produksi juga tercatat lebih rendah seiring berkurangnya kebutuhan pestisida dan pupuk kimia. Hasil tersebut merupakan temuan penelitian dan tidak memastikan manfaat yang sama pada semua lahan.