
Nasabah MNC Bank Keluhkan Penarikan Dana
15 menit yang lalu
Permainan tradisional dinilai dapat memperkuat interaksi anak dengan keluarga dan mendukung pemenuhan hak bermain.
Terbit · 2 min read

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengajak keluarga menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai kegiatan positif bagi anak di tengah meningkatnya penggunaan gawai. Menurut laporan ANTARA, Arifah menyampaikan ajakan itu di Jakarta pada Minggu (8/11/2026) saat Festival Anak Bermain.
Arifah mengatakan anak tidak bisa begitu saja dilarang menggunakan teknologi. Ia mendorong keluarga menyediakan alternatif kegiatan yang menarik, edukatif, dan sesuai tahap perkembangan anak, termasuk permainan tradisional yang berakar pada kearifan lokal.
Menurut Arifah, permainan tradisional berbeda dari penggunaan gawai karena melibatkan banyak orang. Kegiatan itu, kata dia, dapat membuka ruang komunikasi dan memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
Arifah juga menyatakan bermain merupakan hak anak. Ia merujuk Pasal 11 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang mencakup hak beristirahat, memanfaatkan waktu luang, bermain, berekreasi, dan berkreasi.
Dalam festival tersebut, Arifah berdialog dengan anak-anak dan orang tua yang mengikuti permainan tradisional. Ia mengajak keluarga tidak hanya mengajak anak bermain, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya turut mendukung upaya menghidupkan kembali permainan tradisional. Menurut laporan yang sama, Bima menyebut permainan itu dapat melatih sosialisasi, kemampuan motorik dan keseimbangan, sportivitas, serta mengenalkan filosofi kehidupan.
Bima berharap Festival Anak Bermain menjadi gerakan berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai daerah dengan melibatkan pemerintah daerah, keluarga, komunitas, dan masyarakat. Ia menilai ruang publik yang menyediakan permainan tradisional dapat memperluas kesempatan anak untuk bermain, berekreasi, bersosialisasi, dan mengenal warisan budaya.
Festival yang digelar Kementerian PPPA bersama Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno dan Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia, dengan dukungan Sriwijaya Capital, menghadirkan 18 jenis permainan. Di antaranya congklak, egrang, dan gasing; kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian awal peringatan Hari Anak Sedunia pada 20 November 2026.
Kementerian PPPA, PPK-GBK, dan KPOTI dijadwalkan menggelar aktivasi ruang bermain berbasis permainan tradisional di Moja Museum pada 22 November 2026. Informasi tersebut tercantum dalam laporan ANTARA.