
Internet Bantu Petani Kakao Buol Kembangkan Usaha
7 menit yang lalu
Studi memetakan tekanan air di sekitar pusat data dan menawarkan sejumlah langkah untuk mengurangi dampaknya.
Terbit · 2 min read

Sekitar 25 persen pusat data di dunia berada di wilayah yang mengalami kekurangan pasokan air setidaknya selama satu bulan dalam setahun. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip studi dalam jurnal Environmental Science & Technology, kondisi itu berpotensi memburuk seiring kenaikan suhu global dan kebutuhan air untuk pendinginan.
Tim peneliti yang dipimpin Carnegie Institution for Science memetakan 9.347 pusat data di seluruh dunia. Studi tersebut mengukur kesenjangan pasokan air, yaitu keadaan ketika permintaan melampaui ketersediaan air setempat.
Berdasarkan model iklim dengan asumsi suhu rata-rata global naik 3 derajat Celsius dibandingkan tingkat pada 1900, proporsi lokasi pusat data yang mengalami tekanan air diperkirakan mencapai 33 persen dalam 10 tahun. Angka itu merupakan proyeksi, bukan kondisi yang telah terjadi.
Ilmuwan lingkungan Lorenzo Rosa dari Carnegie Institution for Science mengatakan fasilitas tersebut berdiri di atas sumber air yang juga dibutuhkan kota dan lahan pertanian. Menurut laporan CNBC Indonesia, pernyataan Rosa itu dikutip dari Science Alert.
Pusat data menggunakan air untuk menjaga suhu peralatan dan kelancaran operasi. Fasilitas besar dapat mengonsumsi air per hari setara kebutuhan kota berpenduduk 50.000 orang; pendinginan dengan penguapan juga kerap menggunakan air tawar.
Air umumnya harus diperoleh dari sumber setempat, berbeda dengan listrik yang dapat disalurkan melalui jaringan. Pusat data dapat mengambil air dari danau, sungai, atau akuifer, sementara ketersediaannya berubah mengikuti musim.
Pemetaan itu menunjukkan 41 persen pusat data bersaing langsung dengan kota dan pemerintah daerah untuk memperoleh air, sedangkan pertanian menjadi pengguna utama di 28 persen lokasi lainnya. Sebanyak 523 fasilitas—sedikit lebih dari 5 persen total yang diteliti—mengalami kesenjangan pasokan air sedikitnya sembilan bulan dalam setahun.
Menurut laporan yang sama, dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air berbeda di setiap negara. Sebagian besar lokasi di Amerika Serikat yang berpotensi melewati ambang tekanan air berada di negara itu, sementara Inggris dan Jerman diperkirakan tidak mengalami perubahan besar.
Para peneliti menyoroti keterbatasan informasi konsumsi air dan menyebut perusahaan teknologi masih enggan mengungkapkan kebutuhan air serta dampaknya secara terperinci. Pelaporan yang lebih transparan dinilai dapat membantu; upaya itu kemungkinan membutuhkan intervensi regulator dan pemerintah agar penggunaan air dapat dipantau. Langkah lain yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap air tawar mencakup pemanfaatan air limbah atau air laut yang telah diolah serta peningkatan efisiensi pengelolaan panas. Dampak tekanan air terhadap operasional pusat data dan pengguna lain masih perlu diteliti lebih lanjut.