
Indonesia Perlu Menjaga Perlindungan Polio
9 menit yang lalu
Penulis menilai fleksibilitas APBN dapat meredam tekanan ekonomi jika disertai prioritas belanja dan pengendalian yang jelas.
Terbit · 1 min read

Dalam opini yang dimuat ANTARA, seorang Guru Besar FEB YARSI University sekaligus Direktur Riset GREAT Institute menilai pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiskal yang adaptif menghadapi tekanan ekonomi global. Ia menyebut pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak mentah dapat menekan APBN.
Tulisan tersebut menyebut perubahan pasar global yang melampaui asumsi makroekonomi berpotensi mendorong defisit anggaran mendekati atau melewati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto. Naskah ANTARA itu diterbitkan pada Minggu (1/11/2026); tanggal tersebut merupakan tanggal terbit, bukan waktu terjadinya tekanan ekonomi.
Menurut tulisan tersebut, kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi, sedangkan penguatan dolar Amerika Serikat menambah tekanan terhadap rupiah. Dalam perhitungan Nota Keuangan, kenaikan harga minyak satu dolar AS per barel dapat menambah beban fiskal hingga miliaran bahkan triliunan rupiah, bergantung pada parameter anggaran.
Penulis menilai kenaikan harga energi dapat memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, produksi, dan pengeluaran rumah tangga. Jika kenaikan harga minyak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen melalui penyesuaian harga bahan bakar minyak secara drastis, daya beli dan konsumsi masyarakat berpotensi tertekan.
Dalam pandangan penulis, APBN dapat berfungsi sebagai peredam tekanan ekonomi dengan menyerap sebagian kenaikan harga energi. Pilihan itu, menurut tulisan tersebut, memberi rumah tangga dan dunia usaha waktu untuk beradaptasi, sementara pelebaran defisit yang terkendali dapat dipertimbangkan untuk menjaga daya beli, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan pertumbuhan.
Penulis menekankan bahwa fleksibilitas anggaran tetap perlu disertai pengelolaan yang bertanggung jawab. Ia mengusulkan penataan belanja perjalanan dinas dan proyek yang belum mendesak, lalu mengarahkan ruang anggaran ke perlindungan sosial, ketahanan pangan, dan kebutuhan masyarakat yang dinilainya berdampak lebih luas.
Tulisan itu juga mendorong efisiensi energi domestik, optimalisasi penerimaan negara dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan dunia usaha, serta komunikasi anggaran yang transparan. Penulis berpendapat kredibilitas fiskal tidak hanya ditentukan oleh angka defisit, tetapi juga kualitas belanja dan kemampuan kebijakan menjaga ketahanan ekonomi.