
Airlangga Jelaskan Status Peserta MagangHub
1 jam yang lalu
Penelitian membagi kecenderungan pikiran peserta menjadi empat kelompok, tetapi bukan kategori kepribadian yang tetap.
Terbit · 1 min read

Penelitian terhadap 258 orang menemukan empat kelompok berdasarkan hal-hal yang paling sering mereka pikirkan. Menurut laporan CNNIndonesia.com yang mengutip The Guardian, penelitian itu dilakukan oleh ekonom dari Claremont Graduate University di Amerika Serikat dan Wuhan University di China.
Peserta berusia 19 hingga 71 tahun mengikuti penelitian selama dua minggu. Mereka menggunakan aplikasi yang mengirim notifikasi acak delapan kali sehari untuk mencatat pikiran, aktivitas, dan tingkat kebahagiaan saat itu.
Dari lebih dari 23 ribu catatan pikiran, peneliti mengelompokkan peserta ke dalam empat tipe. Kelompok pertama, pencemas, lebih sering memikirkan persoalan dunia, politik, dan masalah sosial dibandingkan rata-rata peserta.
Pencemas juga lebih banyak memikirkan keselamatan dan kesehatan. Catatan mereka memuat pikiran tentang berbagai isu, termasuk perang dan pandemi; musik muncul hampir dua kali lebih sering daripada rata-rata, yang menurut dugaan peneliti mungkin membantu meredakan beban emosional.
Kelompok pemikir urusan sehari-hari lebih banyak memikirkan urusan praktis, seperti pekerjaan rumah tangga, keuangan, dan kebutuhan sehari-hari. Mereka juga cukup sering memikirkan cerita dari film, buku, dan acara televisi.
Pemikir tubuh lebih sering mencatat sensasi fisik, perasaan, dan pengalaman mental. Rata-rata usia kelompok ini 32 tahun dan hampir dua pertiganya perempuan; kelompok ini juga mencatat tingkat pikiran intrusif tertinggi, sebesar 28 persen.
Kelompok keempat, pekerja sekaligus penikmat hiburan, banyak memikirkan pekerjaan sekaligus hobi, permainan, dan seni. Pikiran tentang pekerjaan sekitar 50 persen di atas rata-rata, sedangkan tentang hobi, permainan, dan seni sekitar 25 persen lebih tinggi; kelompok ini juga memiliki pendapatan dan skor kebahagiaan tertinggi di antara empat kelompok.
Temuan itu tidak membuktikan bahwa fokus pada pekerjaan dan hiburan membuat seseorang lebih bahagia. Peneliti menyebut empat kelompok tersebut bukan kategori kepribadian mutlak, dan hasilnya memiliki keterbatasan karena jumlah peserta relatif sedikit serta sebagian besar berasal dari masyarakat Barat berpendidikan dan makmur. Karena itu, hasil penelitian belum tentu mewakili pola pikir masyarakat di seluruh dunia.