
Bitcoin Depot Hentikan Operasi ATM Bitcoin
12 menit yang lalu
Kekurangan 15 ribu ton gula rafinasi dikhawatirkan mengganggu produksi jika tak terpenuhi hingga Desember 2026.
Terbit · 1 min read

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyebut salah satu produsen industri dalam negeri kekurangan pasokan gula rafinasi sebanyak 15 ribu ton. Menurut laporan CNN Indonesia, perusahaan itu terancam menghentikan produksi jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi hingga Desember 2026.
Sarmuji menyampaikan hal itu dalam paparan di Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Ia membahas sejumlah kendala yang dihadapi industri manufaktur untuk meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi.
Sarmuji mengatakan ketersediaan bahan baku menjadi salah satu syarat penting bagi industri untuk menjaga kegiatan produksi. Ia menyampaikan, perusahaan tersebut khawatir harus berhenti berproduksi jika kekurangan pasokan berlanjut.
Dalam paparannya, Sarmuji mengatakan, “Kami kekurangan 15 ribu ton gula rafinasi. Khawatirnya kalau enggak cukup 15 ribu ton sampai bulan Desember, kami terpaksa berhenti produksi,” ujarnya.
Ia menilai penghentian produksi dalam waktu singkat pun dapat menimbulkan persoalan bagi industri. “Jangankan berhenti produksi satu bulan, berhenti produksi tiga hari saja, itu isunya sudah luar biasa,” katanya.
Sarmuji mengatakan pemerintah berupaya mengomunikasikan persoalan pasokan bahan baku dengan pihak terkait agar kebutuhan industri terpenuhi dan produksi tetap berjalan.
Menurut laporan yang sama, tingkat utilisasi industri pengolahan pada Februari 2026 tercatat sebesar 66,13 persen. Pemerintah berharap angka tersebut dapat meningkat menjadi 80 hingga 85 persen.
Sarmuji menyebut kecukupan bahan baku sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong peningkatan utilisasi. Pemerintah berharap pemanfaatan kapasitas produksi yang lebih tinggi dapat memperbesar kontribusi sektor industri terhadap perekonomian nasional.