
IHSG Menguat 0,95 Persen ke Level 5.439,26
10 menit yang lalu
Banjir merendam empat desa di Aceh Selatan dan menghambat panen padi di Aceh Tamiang setelah tanggul jebol.
Terbit · 2 min read

Empat desa di dua kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan terendam banjir setelah hujan lebat memicu luapan sungai. Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip Antara, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan Mudatsir menyebut ketinggian air mencapai sepaha orang dewasa.
Banjir terjadi sejak Sabtu (24/10/2026) di Gampong Gunong Pulo dan Krueng Batee, Kecamatan Kluet Utara, serta Gampong Mersak dan Malaka, Kecamatan Kluet Tengah. Air juga menggenangi jalan nasional Tapaktuan-Subulussalam, tetapi lalu lintas kendaraan tetap lancar.
Mudatsir mengatakan hujan lebat menyebabkan luapan dari sejumlah daerah aliran sungai menggenangi permukiman. Saat laporan tersebut disampaikan pada Minggu (25/10/2026), banjir masih menggenangi sejumlah lokasi dan hujan masih berlangsung.
Selain banjir, longsor terjadi di dua lokasi pada jalan lintas Gunung Manggamat menuju Kotafajar, Kecamatan Kluet Selatan. BPBD mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran untuk membersihkan material lumpur, kata Mudatsir.
Di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, petani Desa Teluk Halban memanen padi secara manual karena sawah masih tergenang setelah tanggul sungai di Desa Marlempang jebol. Sugiono, petani setempat, mengatakan sawah telah terendam lebih dari sepekan dan ketinggian air semula lebih dari satu meter.
Menurut Sugiono, panen baru dimulai bertahap pada hari kesembilan. Tanaman yang terlalu lama terendam mulai membusuk dan bulirnya berguguran; petani menggunakan perahu karet atau perahu terpal untuk mengangkut padi karena mesin panen tidak dapat beroperasi di tengah genangan.
Sugiono mengatakan petani kesulitan mendapatkan pekerja karena kondisi sawah berat dan air berbau serta menimbulkan gatal. Panen yang sebelumnya berbiaya Rp150 ribu per rantai kini dilakukan dengan sistem bagi hasil, masing-masing 50 persen; ia mengatakan tanpa cara itu padi terancam membusuk karena tidak ada yang sanggup memanennya.
Datok Penghulu Teluk Halban Abdullah Boyak mengatakan air mulai surut, tetapi sebagian besar sawah masih terendam. Dari 62 hektare sawah produktif di desa itu, sekitar 70 persen terdampak saat padi hampir panen; sementara Pelaksana Tugas Kepala Distanakbun Aceh Tamiang Irwan Hadi membenarkan sawah di wilayah pesisir terdampak, tetapi mengatakan data luasnya masih dihimpun.