
Sumpah Pemuda 2026 Bukan Hari Libur Nasional
12 menit yang lalu
Laboratorium bersama ITB, GEM, dan CSU mendukung riset metalurgi dan pelatihan tenaga ahli industri mineral.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA yang mengutip Xinhua, kerja sama Indonesia dan Tiongkok di bidang material energi baru dan metalurgi dikembangkan lewat laboratorium penelitian bersama di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat. Laboratorium itu dimaksudkan untuk mendukung riset sekaligus menyiapkan tenaga ahli bagi industri pengolahan mineral.
Laboratorium tersebut diresmikan pada 28 Agustus 2024 di kampus ITB Jatinangor. Fasilitas ini didirikan perusahaan ekonomi sirkular asal Tiongkok, GEM Co., Ltd., dengan investasi 30 juta dolar AS, dan melibatkan ITB serta Central South University (CSU), Tiongkok.
Menurut laporan yang sama, laboratorium itu menjadi fasilitas penelitian bersama pertama Indonesia-Tiongkok yang berfokus pada material energi baru dan teknik metalurgi. Fasilitas ini memiliki sekitar 300 set instrumen penelitian dan peralatan skala pilot dengan kapasitas reaktor dua liter hingga 1.000 liter, yang mendukung penelitian pemanfaatan sumber daya mineral, pengembangan material energi baru, daur ulang sumber daya, dan pengelolaan lingkungan.
Dosen Metalurgi ITB Imam Santoso mengatakan laboratorium ini memperluas akses mahasiswa dan peneliti terhadap peralatan yang sebelumnya sulit diperoleh. Ketua Laboratorium Bersama sekaligus profesor Metalurgi ITB Zaki Mubarok menyebut, sebelumnya sebagian pengujian harus dikerjakan di tempat lain dengan waktu tunggu dua hingga tiga minggu, sedangkan kini banyak pengujian selesai di laboratorium dengan hasil tersedia keesokan harinya.
Menurut Zaki, laboratorium ini dapat digunakan mahasiswa ITB dan pihak eksternal yang telah mendaftar, dan timnya telah menerbitkan empat makalah di jurnal akademik internasional dengan dukungan fasilitas tersebut. Pada tahun akademik 2025-2026, lima mahasiswa pascasarjana Fakultas Metalurgi menerima beasiswa dan menyelesaikan tesis dengan menggunakan fasilitas laboratorium itu, yang juga dilaporkan telah menerima lebih dari 2.000 tenaga ahli dan peneliti dari berbagai negara.
Gagasan laboratorium bersama bermula pada 2023, ketika ITB mengusulkan agar perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di sektor nikel Indonesia turut mendukung penyediaan peralatan pendidikan. Pendiri sekaligus Ketua GEM Xu Kaihua menilai penyediaan peralatan saja belum cukup, sehingga GEM mengusulkan pendirian laboratorium bersama dengan ITB dan CSU, yang pembangunannya rampung sekitar empat bulan setelah masa persiapan.
Kerja sama pendidikan GEM di Indonesia disebut telah dimulai sejak 2019, ketika perusahaan itu meluncurkan program pelatihan bersama CSU dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada Maret 2019. LPDP menanggung biaya kuliah magister di CSU pada tahun pertama, sedangkan GEM membiayai dua tahun berikutnya. Menurut Wakil Manajer Umum GEM Xu Pengyun, program itu telah melatih 341 mahasiswa magister Indonesia, empat di antaranya melanjutkan studi doktoral di Tiongkok, dan pada 2026 direncanakan menerima lebih dari 70 mahasiswa dari lebih dari 1.000 pendaftar.
Program itu juga mencakup pelatihan intensif bahasa Mandarin selama tiga setengah bulan di Jingmen, Tiongkok, dan GEM menyebut tingkat kelulusan peserta pada ujian HSK Level 4 pada dasarnya mencapai 100 persen. Hingga 2035, GEM menargetkan membantu menyiapkan 100 doktor, 1.000 lulusan magister, dan 10.000 pekerja terampil bagi Indonesia lewat program yang disebut "Rencana Seratus, Seribu, dan Sepuluh Ribu".