
Jesus Owono Berduka atas Meninggalnya Jesus de Miguel
11 menit yang lalu
Fasilitas SWRO untuk pusat data wajib memenuhi perizinan, sementara pengelolaan air sisa harus mengikuti ketentuan lingkungan.
Terbit · 1 min read

Badan Pengusahaan (BP) Batam menegaskan pembangunan fasilitas pengolahan air laut menjadi air bersih atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan pusat data wajib mengikuti seluruh ketentuan perizinan. Menurut laporan ANTARA, Deputi Bidang Kebijakan Strategis dan Perizinan BP Batam Sudirman Saad menyampaikan ketentuan itu di Batam, Kamis (5/11/2026).
Sudirman mengatakan proses perizinan mencakup Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL), analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Ia menyebut pengurusan perizinan dilakukan melalui Pelayanan Satu Pintu Terpadu (PTSP) BP Batam.
Direktur Utama PT Kabil Citranusa Peters Vincen menjelaskan air laut akan dialirkan melalui pipa menuju fasilitas SWRO. Setelah diolah, air akan ditampung di tangki sebelum didistribusikan ke pusat data di Kabil dan Nongsa.
Peters mengatakan kebutuhan air tiap pusat data berbeda menurut kapasitas dan teknologi yang digunakan. Sebagian fasilitas membutuhkan sekitar 10 liter per detik, sedangkan pusat data berkapasitas lebih besar mungkin memerlukan hingga 100 liter per detik.
Ia juga menyebut perkembangan teknologi memungkinkan sebagian pusat data terbaru mengurangi atau tidak menggunakan air dalam sistem pendinginannya. Untuk air pekat yang tersisa dari pengolahan SWRO, Peters mengatakan akan ada penanganan khusus sebelum dibuang kembali ke laut.
Menurut Peters, mekanisme pengelolaan limbah telah dibahas bersama Dinas Lingkungan Hidup untuk memastikan pembuangan memenuhi ketentuan lingkungan. Ia mengatakan air sisa pengolahan akan melalui penanganan khusus sebelum dibuang kembali ke laut dan prosesnya dipastikan sesuai ketentuan lingkungan hidup.
Peters mengatakan pengembangan pusat data di Batam masih berlangsung bertahap. Kapasitas operasional saat ini diperkirakan 20-30 megawatt, sementara pengembangan hingga satu gigawatt ditargetkan pada 2030; ia juga menyebut dua pusat data telah memiliki bangunan dan sedang diisi.