
Polisi Bongkar Industri Rumahan Narkotika di Maros
56 menit yang lalu
Festival tari kolosal ke-14 di Pantai Marina Boom Banyuwangi untuk pertama kalinya digelar pada malam hari.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Pergelaran Gandrung Sewu 2026 di Pantai Marina Boom, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengusung tema "Kembang Dermo". Tema itu mengangkat nilai adat dan tradisi yang hidup serta berkembang di tengah masyarakat Banyuwangi.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar festival tersebut pada Sabtu (24/10/2026) malam, yang menjadi pelaksanaan tahun ke-14. Pertunjukan tahun ini bertajuk Glow in the Dark.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan hal itu di Banyuwangi, Jumat (23/10/2026). Menurut dia, pertunjukan tahun ini menjadi langkah baru dalam menghadirkan seni tradisi kepada publik tanpa meninggalkan akar budayanya.
Ipuk menyebut perubahan waktu pertunjukan membawa dampak pada sisi artistik. "Perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana berbeda, panggung malam membuka ruang eksplorasi artistik yang lebih luas, dengan permainan cahaya dan visual yang memperkuat kemegahan gerak ribuan penari Gandrung," katanya.
Ia mengemukakan bahwa Festival Gandrung Sewu telah menempuh perjalanan cukup panjang sejak pertama kali digelar pada 2012. Menurut laporan yang sama, agenda tahunan ini bermula dari keinginan mengangkat sejarah tari gandrung, lalu berkembang menjadi panggung kebanggaan Banyuwangi yang merawat tradisi sekaligus menghadirkan cerita baru setiap tahun.
"Selama lebih dari satu dekade, ribuan penari Gandrung telah tampil bersama di kawasan Pantai Marina Boom, dengan latar Selat Bali. Setiap pergelaran membawa tema berbeda, mengangkat kekayaan sejarah, adat, perjuangan, hingga keberagaman budaya yang hidup di Banyuwangi," katanya.
Ipuk menjelaskan bahwa Gandrung Sewu berakar pada tari gandrung, kesenian khas Banyuwangi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing. Kata gandrung bermakna terpikat atau mencintai, dan tari ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang terus diwariskan lintas generasi.
Menurut Ipuk, melalui festival ini pelestarian budaya berjalan beriringan dengan regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Ipuk menyatakan perjalanan festival pada 2026 memasuki babak baru karena untuk pertama kalinya Gandrung Sewu digelar pada malam hari. Pertunjukan itu menghadirkan pengalaman berbeda melalui perpaduan seni tradisi, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.