
Kadin Nilai Fundamental Ekonomi Masih Kuat
11 menit yang lalu
Hemas menyoroti kolaborasi dan inovasi, sementara perajin dan pemerintah daerah membahas akses pasar.
Terbit · 1 min read

Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi untuk memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu saat mengunjungi Rumah Produsen Tas Kulit Djoen Leather di Bantul.
Laporan ANTARA menyebut kunjungan industri tersebut berlangsung pada Kamis (29/10/2026). Hemas mengatakan ketertarikannya bermula setelah melihat tayangan YouTube tentang karya pelaku UMKM Bantul yang telah menembus pasar mancanegara.
Hemas menilai masih banyak potensi di Bantul yang belum digali. Ia juga menyebut produk yang dilihatnya dalam pameran memiliki daya saing luas dan mendorong kerja sama dengan dinas agar pelaku usaha mendapat fasilitasi serta tidak hanya memproduksi berdasarkan pesanan.
Menurut laporan yang sama, Hemas mengapresiasi ketelitian dan ketekunan pemilik Djoen Leather, Harjuno Wiwoho. Usaha itu disebut bertahan sejak 2015 dengan modal awal Rp4,3 juta.
Harjuno mengatakan pesanan masih diterima di tengah tantangan ekonomi, antara lain berkat kerja sama dan pertukaran informasi dengan sesama perajin. Ia juga menyebut sejumlah instansi memesan produk dari usahanya.
Harjuno menjelaskan bahwa usaha tersebut melibatkan perajin lain, produsen kulit, perbankan, dan pemerintah daerah. Pada awalnya, pemasaran berlangsung dari mulut ke mulut; ia mengatakan mutu dan tanggung jawab dalam bekerja membantu membangun kepercayaan konsumen.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul Ari Budi Nugroho menyebut kerajinan lokal berkontribusi terhadap produk domestik regional bruto. Ia mengatakan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan asosiasi diperlukan untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan.
Ari menyatakan industri usaha kecil dan menengah di Bantul berkontribusi 14 persen, lebih tinggi daripada pertanian sebesar 13 persen. Ia juga menyebut 75 persen kerajinan DIY dihasilkan di Bantul, termasuk batik, mebel, gerabah, dan anyaman; Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Anton Raharjo mengatakan pemerintah daerah berupaya memperluas akses pasar melalui penjajakan bisnis dengan pembeli internasional.