
Myra Djumirah Pimpin MSI Periode 2027-2030
10 menit yang lalu
Acara di Mataram mempertemukan penggemar K-pop dan menyoroti ruang budaya lokal di tengah tren global.
Terbit · 1 min read

Halloween Night Party yang digelar K-Pop Squad Lombok di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada akhir Oktober menjadi ruang berkumpul dan berekspresi bagi anak muda. Menurut laporan ANTARA, acara itu diwarnai kostum karakter, penampilan tari K-pop, dan pertemuan para penggemar.
Acara tahunan tersebut didominasi generasi milenial dan generasi Z. K-Pop Squad Lombok mulai menggelarnya pada 2021, menurut laporan yang sama.
Ketua K-Pop Squad Lombok Dhea Monica mengatakan kegiatan itu bertujuan mempertemukan penggemar K-pop di Lombok yang jarang berkumpul. Wakilnya, Mindi Karmila, menyebut acara tersebut juga memberi ruang untuk menyalurkan hobi.
Rangkaian kegiatan mencakup penampilan tari K-pop dan permainan menari mengikuti potongan lagu yang diputar secara acak. Komunitas serta kelompok tari juga mendapat kesempatan menampilkan kemampuan mereka.
Tema Halloween dipilih karena memberi peserta kesempatan mengenakan beragam kostum. Panitia juga melihat perayaan Halloween kerap muncul dalam aktivitas para idola K-pop, menurut laporan yang sama.
Dwitanizam Layshavina, yang dikenal dengan nama panggung Joe, mengatakan ketertarikannya pada budaya Korea bermula sejak SMP dan memengaruhi gaya berpakaian, riasan, serta kebiasaan sehari-hari. Ia juga menaruh minat pada tari tradisional dan mengikuti kegiatan kebudayaan melalui organisasi di kampus.
Peserta lain, Dida Ardani, mengatakan budaya K-pop memengaruhi gaya berpakaian dan cara berinteraksinya. Ia juga pernah membantu kegiatan adat dan kegiatan pengenalan tempat bersejarah saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa.
Dosen Sosiologi Universitas Mataram Muhammad Arwan Rosyadi melihat Halloween sebagai bagian dari gaya hidup yang berkembang melalui pengaruh budaya global. Ia menyebut perkembangan itu menjadi tantangan bagi budaya lokal di Nusa Tenggara Barat, termasuk Lombok. Materi juga menekankan pentingnya memperkenalkan dan mempertahankan budaya yang diwariskan. Pengalaman Joe dan Dida menunjukkan minat terhadap budaya populer global dapat berjalan berdampingan dengan keterlibatan dalam kegiatan budaya lokal.