
Andrea Bocelli dan Lea Simanjuntak Duet di Jakarta
1 jam yang lalu
IDAI meminta pemadaman karhutla untuk melindungi anak; Khairiyadi mengusulkan rumah aman bagi pasien pernapasan.
Terbit · 1 min read

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) segera dipadamkan untuk melindungi kesehatan anak di kawasan terdampak. Menurut laporan CNN Indonesia, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menyebut polutan PM 2,5 dalam asap karhutla berisiko bagi kesehatan anak dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
Piprim menyampaikan hal itu dalam webinar pada Selasa (3/11/2026).
Piprim mengatakan tenaga medis di wilayah terdampak terus menangani kasus pernapasan. Ia menilai pemadaman merupakan langkah utama, sementara masker hanya menjadi solusi sementara.
“Dampak penanganan atau pengobatan akibat karhutla terhadap kesehatan atau aspek lain itu luar biasa. Saya kira kalau ditanya apa solusi terbaik ya pemadaman secepat cepatnya,” kata Piprim dalam webinar tersebut.
Ia menambahkan, jika pemerintah tidak mampu menangani karhutla, pemerintah sebaiknya bekerja sama dengan negara tetangga atau mencari bantuan dari luar. Piprim mengatakan, “Penggunaan masker itu bukan solusi utama tapi sementara. Solusinya ya pemadaman sesegera mungkin. Kalau tidak mampu ya cari bantuan dari luar,” imbuhnya.
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi-konsultan Khairiyadi mengatakan kasus pernapasan anak meningkat sejak karhutla. Menurut data rumah sakit tempatnya bertugas, RSUD Ulin, terdapat 157 kasus ISPA pada Juli 2026, ketika luas kawasan terdampak tercatat 459,68 hektare.
Pada 14 Oktober 2026, tercatat 4.926 kasus di RSUD Ulin dan luas lahan terdampak 27.202,97 hektare. Laporan yang sama memuat kedua angka tersebut.
Khairiyadi mengatakan ia bingung memberi solusi atas keluhan orang tua pasien. Ia mengenang pertanyaan, “Dok, gimana supaya anak saya tidak mengi lagi?” dan jawabannya, “Ya ngungsi. Ngungsi ke mana?”
Khairiyadi menyebut penggunaan masker tidak cukup untuk mengatasi masalah kualitas udara, terutama bagi anak berusia hingga dua tahun yang sulit rutin mengenakannya. Ia mengusulkan rumah aman dengan ventilasi dan oksigen bagi penderita gangguan pernapasan yang tidak dapat meninggalkan wilayah terdampak.