
Jasa Raharja Perluas Peran Cegah Kecelakaan
10 menit yang lalu
Petani Desa Geyongan memakai pompa berbahan bakar bersubsidi saat embung kekurangan air.
Terbit · 2 min read

Petani di Desa Geyongan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menggunakan pompa dan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk menjaga tanaman padi tetap mendapat air saat kemarau. Menurut laporan ANTARA, Mashudi, Ketua Forum Petani dan Masyarakat Desa Geyongan, menceritakan upaya tersebut kepada ANTARA pada Kamis (29/10/2026).
Pada pertengahan September 2026, sawah di desa itu kembali mendapat pasokan air dari sistem irigasi bertekanan. Sebelumnya, embung yang menjadi salah satu sumber pengairan mengalami kebocoran dan debit airnya menyusut.
Mashudi mengatakan kemarau yang diperparah fenomena El Nino membuat air semakin sulit diperoleh. “Air itu sangat penting. Bagi kami sudah seperti emas. Bayangkan saja Mas, padi kami sempat keriting daunnya karena kemarau,” ujarnya.
Mashudi bersama anggota Gapoktan Tani Jaya mengelola sekitar 90 hektare lahan, yang sebagian besar mengandalkan air hujan. Embung seluas sekitar 4,5 hektare itu melayani 60 hektare lahan dan berkapasitas 70.400 meter kubik.
Cadangan air embung mulai berkurang tajam sejak Juni 2026 dan mencapai kondisi terburuk pada Juli, ketika tinggi muka air tersisa sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Distribusi air kemudian digilir setiap empat hari, sementara pasokan dari kawasan Giwangan yang berjarak sekitar 18 kilometer tidak cukup untuk mengisi embung.
Kekurangan air mengancam rencana petani meningkatkan pola tanam menjadi tiga kali setahun. Biaya mengolah sawah naik hingga Rp15 juta per hektare, dibandingkan biaya normal sekitar Rp7,5 juta hingga Rp8,5 juta; Mashudi mengatakan hasil satu ton per hektare saat itu sudah tergolong luar biasa.
Petani mengambil air dari saluran irigasi di Majalengka, sekitar 1,5 kilometer dari sawah, dengan mengoperasikan pompa setiap hari. Mereka menggunakan solar bersubsidi berdasarkan surat rekomendasi dan jatah 20 kiloliter, serta memodifikasi sebagian pompa kecil agar dapat memakai elpiji bersubsidi.
Menurut Mashudi, satu mesin pompa dapat menghabiskan hingga 11 tabung elpiji ukuran 3 kilogram dalam tiga hari tiga malam. Ia mengatakan petani mengoperasikan pompa hingga larut malam untuk mengairi tanaman berusia 45–60 hari; solar juga digunakan untuk traktor dan mesin panen.
Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat menyatakan memperkuat pengawasan distribusi BBM bersubsidi di Cirebon dan sekitarnya, termasuk memantau stok di Terminal Terpadu Balongan, kesiapan mobil tangki, serta penyaluran ke SPBU. Manajer Area Komunikasi, Hubungan, dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Regional JBB Reno Fri Daryanto mengatakan pemantauan stok dan penyaluran dilakukan secara waktu nyata di setiap SPBU dan didukung dasbor digital untuk mengetahui perkembangan konsumsi.