
BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem di Sulut
14 menit yang lalu
Pos PGA mencatat letusan, guguran lava pijar, dan aktivitas kegempaan Gunung Karangetang.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang mencatat tiga kali letusan dari kawah utara. Personel Pos PGA Karangetang, Muhamad Fadlan Rasyidin Bina, menyebut tinggi letusan mencapai 1.000–1.100 meter dengan asap berwarna kelabu.
Dalam laporan pengamatan Minggu (25/10/2026), letusan tercatat pada pukul 23.04 WITA, 01.24 WITA, dan 03.20 WITA. Laporan itu tidak merinci tanggal untuk masing-masing waktu letusan.
Pada periode yang sama, petugas mengamati guguran lava pijar dengan jarak luncur 200–1.000 meter ke arah selatan, barat daya, barat, dan barat laut.
Guguran ke selatan meluncur sekitar 200–700 meter. Ke arah barat dan barat daya, guguran menuju Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang dengan jarak sekitar 700–1.000 meter.
Guguran ke barat laut mengarah ke Kali Batuare, Kali Batukole, dan Kali Malrbuhe, dengan jarak luncur sekitar 500–700 meter. Pengamatan CCTV pada malam hari juga menunjukkan sinar api sekitar 5–30 meter di kawah selatan dan 50–100 meter di kawah utara.
Pos PGA merekam tiga gempa letusan, 86 gempa guguran, 133 gempa embusan, 30 gempa tremor nonharmonik, 56 gempa tremor harmonik, empat gempa hybrid atau fase banyak, tujuh gempa vulkanik dangkal, lima gempa vulkanik dalam, dan lima gempa tektonik jauh. Suara gemuruh dan dentuman juga terdengar hingga pos pengamatan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral masih menetapkan status Gunung Karangetang pada Level II (Waspada). Rekomendasi yang disampaikan mencakup larangan mendekati, mendaki, atau beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utara dan kawah utama, serta perluasan sektoral 2,5 kilometer ke arah selatan dan barat daya.
Masyarakat di sekitar sungai yang berhulu dari puncak diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga pantai. Pos PGA juga mengingatkan kemungkinan guguran lava dan awan panas guguran karena material lava sebelumnya belum stabil, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.