
Warga Jakarta Timur Diminta Waspadai DBD
1 jam yang lalu
Program PASTI menggabungkan akses pangan bergizi, edukasi remaja, dan penguatan kelembagaan desa.
Terbit · 2 min read

Warga Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, termasuk Sarini, mengelola kebun dan peternakan ayam petelur untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting. Menurut laporan ANTARA yang terbit 3 November 2026, kegiatan berbasis desa itu membantu warga memperoleh telur dan sayuran tanpa harus pergi ke Pontianak.
Sarini menyebut kegiatan itu bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya bersama mencegah masalah gizi anak sejak dini. Ia mengatakan, “Meskipun tanggung jawab ini membuat hari-hari saya menjadi lebih sibuk, saya melihat manfaatnya bagi desa. Kini warga desa dapat membeli sayuran dan telur langsung dari kami tanpa harus pergi jauh ke Pontianak. Kini, kasus balita yang tidak naik berat badan selama tiga bulan berturut-turut sudah tidak lagi kami temui di Kubu Raya,” kata Sarini pada 3 November 2026.
Inisiatif tersebut menjadi salah satu praktik dalam Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI), yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan hingga tingkat desa. Program ini dilaksanakan Yayasan Wahana Visi Indonesia di Sambas, Bengkayang, Sekadau, dan Kubu Raya.
Selama Januari 2023 hingga Oktober 2026, PASTI menjalankan tiga pendekatan: memperluas layanan kesehatan dan gizi berbasis masyarakat, meningkatkan pengetahuan remaja, serta memperkuat kelembagaan dan tata kelola kolaboratif. Pada pendekatan pertama, lebih dari 3.000 anak di bawah dua tahun yang berisiko stunting mengikuti intervensi Pos Gizi DASHAT di Kalimantan Barat; 60,4 persen peserta yang mengikuti program secara lengkap mengalami kenaikan berat badan hingga mencapai kategori pertumbuhan normal.
Program tersebut juga menjangkau lebih dari 4.000 remaja berusia 15–19 tahun untuk meningkatkan pengetahuan tentang stunting dan pemenuhan gizi. Sebanyak 416 remaja mendapat pelatihan sebagai pendidik sebaya untuk menyebarkan informasi kesehatan dan gizi di lingkungan mereka.
Pada pendekatan kelembagaan, kinerja Tim Percepatan Penurunan Stunting desa meningkat dari 42,5 persen atau 51 dari 120 desa pada 2025 menjadi 59,2 persen atau 71 dari 120 desa pada 2026. Sebanyak 50 tim desa didorong menganggarkan pertemuan rutin dari sumber pendanaan mandiri, sementara 484 anggotanya mengikuti pelatihan sepanjang 2025–2026.
Data aplikasi Sigizi Kesga Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mencatat prevalensi stunting sebesar 13,56 persen pada triwulan I 2026, turun dari 14,03 persen pada 2025 dan 14,04 persen pada 2024. Di Kubu Raya, prevalensi stunting tercatat 9,4 persen; data pemerintah kabupaten menyebut 3.446 dari 36.797 balita yang telah diukur mengalami stunting. Program PASTI mengakhiri periode pelaksanaannya pada Oktober 2026 dan menyerahkan dokumen pembelajaran kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada 3 November 2026.