
Yusril Sebut Mubalig Berperan Jaga Persatuan Nasional
10 menit yang lalu
Pendampingan di tujuh wilayah Manggarai Timur mencakup dukungan psikososial, spiritual, dan penguatan keluarga.
Terbit · 1 min read

Kementerian Agama mengerahkan 35 penyuluh agama Islam dan Katolik untuk mendampingi pemulihan korban gempa bumi Flores di tujuh wilayah terdampak Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Menurut laporan ANTARA yang terbit Senin (26/10/2026), para penyuluh akan mendukung pemulihan psikososial, spiritual, dan ketahanan keluarga.
Kepala Kantor Kemenag Manggarai Timur Anselmus Panggabean mengatakan, 35 penyuluh itu terdiri atas 16 penyuluh agama Islam dan 19 penyuluh agama Katolik. Keterangan tertulisnya diterima di Kupang pada Senin (26/10/2026).
Para penyuluh akan bertugas di Kecamatan Sambi Rampas, Lamba Leda Utara, Elar, Borong, Ranamese, Congkar, dan Kota Komba Utara. Pendampingan diprioritaskan bagi perempuan, anak-anak, lansia, serta keluarga yang masih tinggal di tenda pengungsian.
Sebelum bertugas, mereka mendapat pembekalan dari Kemenag, Wahana Visi Indonesia, dan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai Timur.
Menurut Anselmus, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan fisik. Korban juga memerlukan dukungan psikologis dan spiritual serta penguatan keluarga.
Materi pembekalan mencakup perspektif agama tentang bencana, peran tokoh agama, dukungan psikososial awal, perancangan intervensi, dan sistem rujukan gangguan kesehatan jiwa. Penyuluh juga mendapat materi keterampilan memfasilitasi kelompok dan penguatan keluarga tangguh bencana.
Anselmus mengatakan kolaborasi diperlukan agar pendampingan mencakup aspek psikologis, spiritual, dan ketahanan keluarga. Ia berharap penyuluh membantu memperkuat ketahanan mental, spiritual, dan keluarga masyarakat setelah gempa.
Kepala DP2KBP3A Manggarai Timur Pranata Kristiani Agas menekankan pentingnya keluarga tangguh bencana untuk melindungi kelompok rentan dan mencegah kekerasan, terutama terhadap perempuan dan anak di pengungsian. Manager Respons Bencana Wahana Visi Indonesia Lisa Hernawati menilai penyuluh dekat dengan masyarakat dan perlu memiliki kemampuan memberikan dukungan psikososial serta pertolongan pertama psikologis.