
Vance Sebut Trump Tak Akan Biarkan Perang Iran Berlarut
15 menit yang lalu
Desain jembatan mempertahankan lebar sungai, tetapi kapasitas alirannya masih perlu dikaji instansi teknis.
Terbit · 1 min read

Kodam XV/Pattimura menyatakan desain pembangunan Jembatan Sungai Wai Tomu di kawasan Mardika, Ambon, mempertimbangkan pencegahan banjir. Menurut laporan ANTARA, rancangan itu mempertahankan lebar sungai dan menyediakan ruang aliran air di bawah jembatan.
Kapoksahli Pangdam XV/Pattimura Brigjen TNI Julius Jolly Suawa menyampaikan keterangan tersebut di Ambon pada Jumat (30/10/2026). Jembatan dirancang membentang 120 meter, dengan bagian konstruksi yang melintasi sungai selebar 20 meter; lebar sungai disebut sekitar 18 meter.
Julius mengatakan jembatan dirancang tanpa pilar penyangga di tengah sungai agar aliran tetap lancar, terutama saat debit meningkat karena hujan. Gelagar beton direncanakan berada sekitar 1,55 meter di atas bibir sungai.
Menurut Julius, rancangan tersebut ditujukan untuk mempertahankan lebar sungai seperti kondisi semula, bukan mempersempit ruang aliran. Sebelum konstruksi dimulai, Kodam XV/Pattimura juga membersihkan sedimentasi dan sampah di dasar sungai.
Pekerjaan pembangunan mencakup pemasangan fondasi tiang bor untuk menyangga gelagar dan perbaikan talud di sisi sungai. Kodam juga merencanakan pemasangan jaring penahan sampah di ujung jembatan.
Selain itu, kotak pemantauan disiapkan untuk memeriksa kondisi di bawah jembatan, termasuk kemungkinan penumpukan sampah dan sedimentasi. Julius mengatakan, “Pemantauan dan pemeliharaan perlu dilakukan agar tidak terjadi penumpukan sampah maupun sedimentasi yang dapat mengganggu aliran sungai.”
Julius mengakui kapasitas tampung sungai, kelancaran aliran saat debit tinggi, dan dampak pembangunan terhadap risiko banjir masih memerlukan pengukuran serta kajian hidraulika oleh instansi teknis berwenang. Ia menyebut koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai dan instansi terkait diperlukan untuk mengevaluasi aspek teknis, termasuk potensi penyempitan kapasitas tampung, perubahan karakteristik aliran, dan sedimentasi.
Penataan kawasan juga mencakup perbaikan trotoar di sepanjang Jalan Pasar Mardika untuk mendukung pejalan kaki, masyarakat, dan pelaku usaha. Julius menyatakan pembangunan perlu menyeimbangkan penataan kawasan, manfaat bagi masyarakat, keselamatan, serta keberlanjutan fungsi sungai.