
Lima Berita Politik Terpopuler Sepekan
7 menit yang lalu
Diskusi di Tondano membahas nama dan motto satuan TNI AD yang terinspirasi budaya dan sejarah Minahasa.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan Manado Post, identitas budaya Minahasa menjadi salah satu inspirasi dalam merancang nama dan lambang satuan Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan (Brigif TP) dan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) yang direncanakan dibentuk di wilayah Kodim 1302/Minahasa.
Gagasan itu dibahas dalam diskusi terbuka tentang sejarah leluhur Minahasa dan konsep lambang satuan TNI AD yang digelar Dandim 1302/Minahasa Letkol Inf Bonaventura Ageng F.S. pada Rabu (21/10/2026) di RM dan Villa The Light MM, Kelurahan Tonsaru, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa. Kegiatan berlangsung pukul 19.20 hingga 23.50 WITA.
Diskusi menghadirkan Prof. Dr. Ferry Rumengan, akademisi bidang musikologi dan etnomusikologi, serta Weliam H. Boseke, konsultan asuransi umum sekaligus penulis buku Pahlawan-Pahlawan Dinasti Han Leluhur Minahasa. Dalam sambutannya, Dandim berharap pengetahuan yang dibagikan dapat memperluas wawasan peserta, keluarga, dan lingkungan, serta menekankan pentingnya identitas dan jati diri bagi setiap prajurit TNI.
Menurut laporan yang sama, salah satu pembahasan utama adalah pemaknaan Burung Manguni sebagai simbol kebijaksanaan, keberanian, kewaspadaan, ketelitian, persatuan, dan perlindungan. Nilai-nilai itu menjadi inspirasi bagi konsep nama dan motto satuan yang dipaparkan dalam forum.
Dalam konsep yang dibahas, Brigif TP Manguni dirancang dengan motto "Bijaksana, Pintar, Waspada". Yonif TP Waraney mengusung motto "Kekuatan Kebenaran", sedangkan Yonif TP Teterusan mengangkat nilai "Kehormatan, Keberanian".
Untuk wilayah Minahasa Selatan, nama yang diusulkan adalah Yonif TP Wuaya, dengan konsep semangat berapi-api dan kesiapan menghadapi pertempuran. Yonif TP Walintukan untuk wilayah Minahasa Tenggara mengangkat gambaran gerak cepat seperti angin ribut, dengan motto yang disampaikan dalam paparan, "Cepat dan Berlindung".
Pembahasan turut menyinggung sejarah dan asal-usul masyarakat Minahasa. Ferry Rumengan dan Weliam H. Boseke memaparkan pandangan mengenai hubungan leluhur Minahasa dengan Dinasti Han di Tiongkok, penafsiran nama Minahasa, serta perkembangan empat subetnis utama, yakni Tonsea, Tombulu, Tontemboan, dan Tolour. Paparan itu juga membahas tokoh Karema, Toar, dan Lumimuut serta kemungkinan makna historis sejumlah tradisi dan simbol budaya Minahasa, yang merupakan pandangan para pemapar.
Forum dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab, lalu ditutup dengan doa serta foto bersama. Kegiatan dihadiri Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XIV Dim 1302/Minahasa Ny. Basaria Bonaventura, Kasdim 1302/Minahasa Mayor Inf Dadan Sopian, para perwira, Danramil, dan anggota Kodim 1302/Minahasa.
Diskusi ini disebut menjadi ruang untuk menggali nilai sejarah dan budaya lokal sebagai inspirasi pembentukan identitas satuan. Penetapan akhir nama dan lambang satuan tetap perlu merujuk pada keputusan resmi otoritas TNI AD yang berwenang.